Menjaga Hasil Riyadloh Puasa Romadhon

 Menjaga Hasil Riyadloh Puasa Romadhon 

Oleh: Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag. (Pengurus Komisi Hubungan Antara Ulama' dan Umaro' MUI Jawa Timur). 


A. Pengantar 

Sekalipun kata sang rasul "betapa banyak orang-orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan hasil puasanya kecuali lapar dan dahaga". Tidak berarti tidak ada atau sangat sedikit orang yang berhasil mendapatkan hasil puasa ramadhan, baik yang berupa pahala untuk akhirat atau manfa'at duniawi. 


Kita masih optimis, bahwa masih banyak orang yang berhasil mendapatkan hasil puasanya, tetapi yang sering kali kita ketahui, bahwa keberhasilan itu tidak bertahan lama, khususnya keberhasilan yang berupa perubahan karakter atau akhlak, dari yang sebelumnya masuk kategori; dlolim, munafik, fajir dan ahli maksiat, bisa berubah menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Dengan akhlak yang luar biasa indah dan membahagiakan semua pihak, yang disebut Muttaqin. Artikel pendek ini akan mengulas tentang cara Rasullullah merawat iman dan taqwa kepada Allah sebagai hasil riyadloh puasa ramadhan bisa "kekal dan abadi". 

B. Trik Sang Rasulullah, untuk menjaga agar Karakter Muttaqin tetap abadi di dalam tubuh kita. 

Rasulullah Saw, sang 'ahkamul hukamak' (Failosof nya filosof), menjadikan puasa ramadhan sebagai sebuah paket program intensif pembentukan karakter, sehingga beliau melakukan puasa dalam tiga tahap. Pra ramadhan, intensif ramadhan, dan pasca ramadhan. 

Puasa pra ramadhan, Rasulullah selalu melakukan puasa sepuluh hari di akhir bulan Rajab dan hampir sebulan penuh puasa di bulan Sya'ban. Puasa pra ramadhan, dilakukan dalam rangka mengkondisikan psiko-biologis. Sehingga pelaksanaan puasa ramadhan bisa menjadi terbiasa dan nyaman. 

Puasa intensif ramadhan, dilakukan oleh Rasulullah dengan semangat iimaanan wahtisaaban (yakin dan disiplin), menjaga jiwa dan raga dari ajakan hawa nafsu dan emosi dari melakukan perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah SWT dan rasul-Nya. 

Puasa intensif ramadhan selaras dengan perkembangan psikosufistik-nya soimiin dan shoimat, sebagai sebuah proses menjadi Muttaqin, puasa ramadhan dibagi menjadi tiga etape; sepuluh hari pertama (Rahmah), sepuluh hari kedua (Maghfiroh) dan sepuluh hari terakhir (ithqun minannaar). Dan di masa sepuluh hari terakhir ini, orang yang berpuasa (soimiin), mengalami metamorfosis spiritual (Lailatul Qadar). Biasanya hari-hari menjelang idul Fitri. Dan di saat itu lahir bayi Muttaqin yang masih lemah dan rapuh.

Puasa Pasca Ramadhan

Sang rasul mentradisikan (men-sunnah-kan), puasa di awal bulan Syawal, tanggal 2-7. Puasa enam hari di bulan Syawal, secara syar'i dianggap sebagai penyempurna ibadah puasa ramadhan agar menjadi bernilai satu tahun penuh. Karena nilai satu hari berpuasa seperti sepuluh hari, sehingga berpuasa 30+6 hari sama dengan berpuasa 360 (sama dengan satu tahun penuh), hitungan kalender hijriah atau Qomariyah. 

Tetapi secara psikosufistik, puasa 6 di awal bulan Syawal adalah puasa coolling down (pendinginan perlahan), alamiah, sehingga bayi Muttaqin selamat, tidak mati secara prematur. Karena kaget secara spiritual dengan pola hidup yang cenderung euforia (menuruti hawa nafsu).

C. Penutup

Demikian itulah, hikmah di balik tradisi Rasulullah di dalam melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. 

Semoga kita semua bisa mengikuti Sunnah beliau di dalam menjalani ibadah puasa, sehingga ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Terpatri dan abadi di dalam jiwa kita. 

Wal hamdulillah

Read more…

SHOLAWAT ULUL ALBAB