Al-Kasyf:
MENUNGGU DATANGNYA
”LAILATUL QODAR”
DI SIANG HARI
(Analisis Psiko-Sufistik atas Peristiwa Lailatul Qadar)
Oleh: Kharisudin Aqib al-Faqir.
Kata Pengantar
Atas Nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan pemelihara seluruh alam. Tuhan yang telah menurunkan agama islam dengan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Buku kecil ini adalah karya originil penulis, yang penulis yakini sebagai bagian dari kasyf nabawi yang diberikan oleh Allah swt kepada penulis yang ingin memamahi makna yang sesungguhnya dari ajaran-ajaran agama islam yang diyakini oleh umatnya sebagai kebenaran mutlak yang pasti tidak bertentangnya dengan ilmu pengetahuan yang berkembang di sepanjang zaman. Seperti; isro’mi’roj, lailatul qadar, turunnya wahyu, dan lain-lain.
Sudah barang tentu karena ini pendapat pribadi yang terkait dengan pemahaman keagamaan yang sangat personal, makatentu banyak pembaca yang mungkin kurang sependapat, tidak setuju dan lain-lain yang bersifat subyektif penulis mohon ma’af yang sebesar-besarnya. Penulis hanya ingin berkontribusi dalam membangun masyarakat islam yang produktif dengan amal sholih sehingga menjadi umat terbaik dan unggul pada milenium ke tiga ini. Umt yang sholih dalam keseimbangan spiritual dan sosialnya.
Atas dasar pemikiran dan niatan tulus penulis,sehingga penulis memberanikan diri untuk menerima tawaran dari penerbit masmedia untuk menerbitkan buku saku ini. Untuk itu penulis ucapkan banyak terimakasih kepada masmedia yang telah berkenan andil dalam penyebaran pemikiran inovasi keagamaan ini. Semoga amal sholihnya diterima dan diberkahi oleh Allah swt.
Penulis siap dan bahkan mengharapkan adanya kritik yang konstruktif dari para pembaca yang budiman, sehingga kita benar-benar akan mendapatkan pencerahan yang teruji sehingga akan terwujud keyakinan yang holistik (ainulyaqin, lmulyaqin dan haqqul yaqin). Di dalam keberagamaan kita.
Terakhir penulis persembahkan karya intelektual ini untuk
Umat islam semuanya, dan khususnya kepada semua orang yang telah berjasa dalam kesuksesan studi penulis, para guru, masyayikh dan yah ibu penulis. Semua beliau semua turut mendapatkan royalty pahala dari allah swt (jika amal ini diterima oleh Allah swt sebagai amal sholih). Dan semua beliau tidak akan menerima transferan dosa (jika) pemikikan dan karya intelektual ini tidak diterima oleh Allah swt. Wallahu a’lam bis showab.
Nganjuk; 11 Agustus 2009.
Kharisudin Aqib al-faqir
Penulis.
BAB I
PENDAHULUAN
- A. Latar Belakang Masalah
Zaman modern seperti sekarang ini ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi milik publik. Semua masyarakat sangat mengandalkan akan rasionalitas bahkan seringkali terjebak pada rasionalisme dan empirisme. Kenyataan ini tidak seluruhnya bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan sebenarnya ada yang sejalan dengan ajaran Islam. Karena Islam memang agama yang shaleh dengan peradaban modern. Dan karena memang Islam diturunkan untuk manusia modern.[1]
Mistisisme dan segala bentuk animistic dan dinamistiknya sebenarnya lebih pada nuansa Arabian primitifnya daripada orisinalitas ajaran Islam. Islam adalah ajaran monotheisme yang jauh dari segala bentuk tahayyul dan khurafat. Dan monotheisme (tauhid), lebih dekat pada rasionalitas daripada kepada tahayyul dan khurafat tersebut. Bahkan Nabi menyatakan, agama adalah intelek, الذين هو العقل لا دلن لمن لا عقل له dan agama seseorang seimbang dengan kadar intelektualitasnya.[2] دين المرء عقله
Ajaran agama Islam dan bahkan peristiwa yang dialami oleh Rasulullah saw. Sebenarnya dapat difahami secara rasional dan akan tetap sejalan dengan kebenaran ilmiah. Walaupun demikian, hal ini tidak banyak diikuti oleh pemahaman kaum muslimin yang memang kebanyakan menggunakan cara pemahaman ahlul hadits yang cenderung tektualis dan dogmatis. Bagi para teknolog, saintis dan ulama di zaman modern ini, kembali pada cara pemahaman ahlus sunnah (di satu ketika tekstual/dogmatis dan di satu ketika kontekstual/rasional), akan lebih bijak, karena akan menjadikan keberagamaan yang lebih dapat difahami.
Karya tulis ini dibuat agar dapat memberi manfaat pada para pembaca pada khususnya, dan kaum muslimin pada umumnya, agar amal perbuatannya dalam menjalankan agama berdampak pada keshalehan sosialnya. Karena amaliah keagamaan seharusnya berdampak pada amaliyah sosialnya, termasuk didalamnya adalah pemahaman terhadap term lailatul qadar.
Tulisan ini merupakan deskripsi atas buah sebagian kecil dari kasyf nabawi itu sendiri. Yakni intuisi atau ilham pada penulis atas makna hakiki dari peristiwa lailatul qadar yang misterius itu. Selanjutnya dicross-cekkan dengan cara analisis komparatif dengan teori-teori psikologi dan sain-tek yang lagi berkembang. Dan selanjutnya ditulis dengan metode pemaparan berikut ini.
BAB II
ONTOLOGI KASYF DALAM ILMU TASAWUF
- A. Pengertian Ilmu Tasawuf
Tasawuf sebagai ilmu dalam Islam, kelahirannya bersamaan dengan ilmu-ilmu keislaman yang lain, yakni sekitar abad ke 2-3 Hijriyyah. Artinya sebagai ilmu yang mandiri tasawuf juga belum ada pada zaman Nabi dan sahabat. Karena semua ilmu agama pada kedua kurun tersebut masih inhern (satu bagian yang tak terpisahkan) dalam perilaku dan sikap mental Nabi dan para pengikutnya. Sehingga tasawuf sebagai ilmu dan ilmu-ilmu lain yang mandiri pada saat itu juga belum dikenal.
Para ulama berspekulasi tentang terminologi tasawuf, karena perbedaan spikulasi tentang asal kata tasawuf itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal kata dari shuffah (pelana kuda), karena dinisbatkan kepada ahlus shuffah, yakni para sahabat Nabi yang mempergunakan seluruh hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Mereka tinggal di samping masjid Nabi dan berbantalkan pelana kuda (shuffah). Ada juga yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari kata shuf (wol kasar). Karena dinisbatkan kepada para wali dan orang-orang yang dengan sengaja berpola hidup sangat sederhana dengan berpakaian kulit binatang (wol kasar) sebagai simbol kesederhanaan hidup. Dan tokoh yang pertama kali digelari dengan kata al-Shufi adalah Abu Hasyim al-Kufi al-Shufi (267 H), seorang ahli tasawuf yang sangat sederhana dengan selalu memakai baju dari wol kasar (shuf).[3]
Sedangkan pengertian secara istilah tasawuf sebagai ilmu adalah suatu pengetahuan yang membahas tentang seluk-beluk hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Juga ada yang mendefinisikan, bahwa ilmu tasawuf adalah ilmu yang membahas tentang hal-ihwal jiwa, baik yang menyangkut sifat-sifat, penyakit-penyakitnya dan cara pembersihannya dalam rangka suluk “berjalan menuju Allah”.[4] Berikut ini adalah sekilas tentang sejarah perkembangannya.
- B. Sejarah Perkembangannya
Sebagai disiplin sebuah ilmu, tasawuf muncul dari dimensi ihsan yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam totalitas agama Islam. Ihsan yang menurut definisi Nabi adalah an ta’budallaha ka-annaka taraahu, fa illam takun taraahu fainnahu yaraaka. [5] (Jika kamu beribadah seolah-olah melihat-Nya, maka jika kamu tidak dapat melihat-Nya maka sesungguhnya Ia melihatmu) selanjutnya, berdasarkan deskripsi dan analisisnya, para ulama tabi’in memunculkan ilmu khas yang disebut ilmu tasawuf.
Pada zaman Nabi dan Sahabat, ilmu ini secara mandiri belum ada. Akan tetapi secara praktis ilmu ini telah diamalkan dan menjadi bagian dari sikap mental yang benar-benar terpatri dalam jiwa Nabi dan para sahabatnya. Mereka benar-benar sumber cahaya bagi eksistensi ilmu tasawuf di kemudian hari. Tasawuf adalah akhlak dan nafas kehidupan Nabi dan para sahabatnya. Mereka adalah sosok figur kaum sufi yang sejati.
Kezuhudan (sifat transendensi dan anti materialisme) Nabi dan para sahabat adalah teladan yang sempurna bagi kaum sufi. Betapa mereka tidak materialistik kalau kita baca sejarah kepribadian mereka. Mereka adalah pribadi-pribadi yang dengan antusias mendermakan harta kekayaannya untuk perjuangan agama. Betapa miskinnya Nabi dan para Khalifahnya sebagai raja dan para punggawa negara adikuasa. Kesabaran dan ketawakkalannya yang luar biasa sehingga perjuangan agamanya mengalami kesuksesan yang luar biasa. Tak pernah ada dan tidak akan ada sejarah kesaksesan suatu ajaran seperti perjuangan mereka. Dan seluruh akhlak mulia menghiasa pribadi Nabi dan para sahabat agung. Ilmu tasawuf tidak dikatakan, tetapi diamalkan dan diajarkan.
Tasawuf merupakan amaliyah yang tak terpisahkan dari kehidupan beragama, hanya berlangsung sampai dengan masa sahabat. Para tabi’in (generasi ulama yang mengalami (bertemu dengan sahabat Nabi) tetapi tidak bertemu / mengalami masa hidup Nabi) sudah tidak mengalami masa integritas ilmu dan ajaran Islam. Tetapi mereka justru mengalami masa kejayaan Islam, masa dimana kaum muslimin secara politik telah menjadi adikuasa dunia. Masa dimana kaum muslimin secara ekonomi menjadi bangsa yang super kaya. Masa dimana secara militer kaum muslimin menjadi bangsa super power.
Dalam keadaan duniawi yang sangat gilang gemilang, justru integritas ajaran Islam mulai mengalami zaman disintegrasi dan kemunduran. Banyak kaum muslimin, khususnya para pejabat sudah kehilangan spirit Islam. Mereka terpesona dengan dunia yang serba gemerlap. Banyak pejabat yang borjuis, banyak penguasa yang zhalim, banyak ulama yang materialis. Dan juga ritus-ritus peribadatan mulai ditinggalkan. masjid-masjid semakin lengang di tengah malam, sudah sepi dari orang-orang yang menunaikan shalat tahajud seperti pada zaman Nabi dan sahabat.
Dari realitas kehidupan yang semakin hedonistik dan materialistik itulah, maka para ulama yang masih belum terkontaminasi oleh maraknya kehidupan dunia, merindukan kehidupan religius seperti yang terjadi pada masa sahabat-sahabat besar Nabi, maka i’tizal (menghindar) dari kehidupan hedonistik ke masjid-masjid. Gerakan ini menjadi populer atas ketokohan Hasan al-Bashri (wafat 110 H). di Basrah. Jargon gerakan tasawuf ini adalah “kembali kepada kehidupan zuhud”.
Halaqah-halaqah (lingkaran studi) dan gerakan amaliyah semakin hari semakin berkembang seimbang dengan perkembangan peradaban Islam. Sampai akhirnya tasawuf sebagai ilmu yang mandiri dan gerakan tasawuf yang ekstrimpun berkembang dengan pesatnya pada masa selanjutnya.
Tasawuf pada masa keemasan Islam juga turut mengalami masa jaya, sufi-sufi besar muncul pada masa ini, seperti Abu Yazid al-Bustami, Abu Manshur al-Hallaj, al-Kusyairi, Ibnu Arabi dll. Kemunculan sufi-sufi besar tersebut ditandai dengan karya-karya besar mereka.
Gerakan tasawuf muncul sebagai antitesa dan balancing (penyeimbang), trend masyarakat yang sedang berkembang. Tasawuf pada masa kejayaan Islam, merupakan balancing dari trend masyarakat yang hedonistik dan materialistik. Sedangkan pada masa kemunduran Islam gerakan tasawuf lebih berperan sebagai balancing atas integritas persaudaraan dan politik umat Islam yang telah porak poranda, khususnya setelah kehancuran kota Baghdad (1258 M) sebagai pusat pemerintahan dan peradaban Islam. Oleh karena itu antitesa yang diberikan oleh para sufi adalah memasyarakatkan ajaran tasawuf pada masyarakat awam dalam bentuk tarekat-tarekat. Para sufi besar menghimpun masyarakat Islam awam dalam suatu majlis dan persaudaran sufi massal. Karena umat Islam menghadapi hegemoni dunia barat dengan tanpa integritas politik yang memadai, sehingga umat Islam sangat rawan keselamatan akidah keagamaannya. Umat Islam membutuhkan patronasi, dan kedamaian persaudaraan suci. Dan inilah bentuk terakhir gerakan tasawuf sampai dewasa ini.
- C. Urgensi Ilmu Tasawuf
Sebagai dimensi isoterik dalam Islam, tasawuf memiliki posisi yang sangat sentral dan strategis. Karena ibarat sebutir buah kelapa tasawuf adalah daging isinya, sedangkan syari’at (eksoterik) adalah cangkang dan kulitnya. Oleh karena itu, ilmu tasawuf juga sangat penting dalam kajian ilmu keislaman. Karena dengan ilmu ini seorang muslim dapat mensucikan hatinya sehingga dapat menjalankan ajaran agamanya dengan penuh penghayatan. Sekaligus akan dapat menghadapai kehidupan dengan penuh ketentraman hati dan kebermaknaan hidup.
Menurut para ulama salaf, mengkaji ilmu ini hukumnya fardlu ‘ain (kewajiban individual) setiap muslim. Karena ilmu ini membahas tata cara berakhlak kepada Allah, dan tata cara mensucikan hati. Dan berakhlak dengan Allah yang baik, dan sucinya hati sehingga dapat ikhlas dalam beribadah merupakan rukun (syarat mutlak) atas diterima dan tidaknya peribadatan seseorang. Sebagaimana juga kwajiban atas belajar fiqih dan tauhid, sebagai ilmu yang dapat membenarkan dalam tata cara beribadah dan meluruskan akidah.
Di samping alasan syar’i tersebut, kajian tasawuf sangat penting bagi orang-orang yang ingin kearifan dan kebermaknaan hidup, serta ketentraman dan kebahagiaan. Karena di dalam ilmu tersebut dikaji tentang hakekat hidup dan teknis-teknis untuk menggapai ketentraman dan kebahagiaan. Akan tetapi yang seringkali kurang dipahami oleh para pengkaji tasawuf adalah bagaimana cara belajar tasawuf. Karena belajar tasawuf haruslah menggunakan metode dan pendekatan tasawuf. Metode dan tata cara yang dilakukan oleh kaum sufi. Tidak bisa menggunakan metode dan pendekatan ilmu-ilmu lain. Di antara tema kajian di dalam ilmu tasawuf adalah peristiwa terjadinya pencerahan dan keterbukaan dengan alam maknawi yang biasa disebut dengan istilah kasyaf atau al-Kasyf.
- D. Pengertian Kasyf Nabawi
Kasyf nabawi adalah suatu term yang terdiri dari dua kata, yakni kata kasyf dan kata nabawi. Keduanya adalah bahasa Arab. Kasyf artinya ketersingkapan, dan nabawi adalah kata sifat dari kata Nabi, yang artinya bersifat kenabian. Sehingga arti term kasyf nabawi adalah ketersingkapan yang bersifat kenabian. Sedangkan yang dimaksud dengan term yang telah menjadi istilah khusus dalam ilmu tasawuf ini (ketersingkapan kenabian) adalah peristiwa atau kondisi kejiwaan seseorang yang sedang mengalami ketersingkapan alam ghaib, makna dibalik suatu kejadian, dan atau rahasia dibalik segala sesuatu, yang bersifat positif (tidak distruktif atau negative).
Kasyf nabawi juga dapat disebut sebagai pencerahan agung yang positif dan monumental. Kasyf model ini adalah kasyf yang mungkin terjadi pada para Nabi, kekasih Allah dan orang-orang shaleh, yang tengah menjalani suatu amaliah yang positif atas dasar dan para meter syari’at yang diridlai oleh Allah swt. Kasyf nabawi ini nilainya lebih agung dari pada mimpi yang benar pada orang-orang shaleh (al-ru’ya al-shadiqah). Yang keduanya sama-sama dalam sifat dan bagian dari jenis kenabian.
Pengalaman dan peristiwa psikologis dan personal yang disebut sebagai kasyf dalam istilah sufi ini juga dikenal di dalam pelbagai peradaban di dunia ini, tentunya dengan istilah yang berbeda. Ada yang menyebut sebagai pencerahan, cenelling, klamboyan, obe, halusinasi positif atau mungkin istilah lain yang tidak dikenal oleh penulis. Dengan maksud yang sama dengan istilah kasyf.
- E. Macam-macam Kasyf
Kasyf atau ketersingkapan, atau pencerahan atau cenneling adalah peristiwa personal dan psikologis, yang bisa saja terjadi pada setiap orang, ragam dan macamnya dapat bermacam-macam bentuk, dan dapat diklasifikasikan dalam beberapa perspektif.
- 1. Kualitas Syar’iyyah
Dari tinjauan kualitas keabsahan menurut syar’ah (ajaran Islam), maka kasyf ada dua macam, yakni kasyf nabawi dan kasyf syaithani.
Kasyf nabawi adalah kasyf, ketersingkapan alam ghaib atau alam maknawi yang bersifat positif dan berasal dari energi suci kemalaikatan. Kasyf jenis ini biasanya tanda-tandanya adalah kesejalannya dengan syari’at, baik dari segi perilaku harian orang yang mendapatkan maupun ketersingkapan yang ia peroleh. Kasyf akan hilang manakala pemiliknya melanggar syari’at Allah, atau dipergunakan untuk melihat sesuatu yang dilarang oleh Allah swt. Dan kasyf model ini tidak bisa untuk demonstrative yang bermotif menuruti hawa nafsu.
Sedangkan kasyf syaithani adalah ketersingkapan alam ghaib dan alam maknawi yang bersifat negative dan distruktif karena berasal dari energi negative syaithan. Kasyf jenis ini biasanya sejalan dengan motif hawa nafsu, sangat mendukung untuk dipamerkan, bersifat konsumtif dan hedonistik. Tidak hilang walaupun pemiliknya melanggar syari’at Allah. Bahkan menjadi lebih hebat. Dapat dipergunakan untuk melihat hal-hal yang dilarang oleh Allah, misalnya melihat atau mengetahui aib orang lain. Kasyf jenis ini biasanya dimiliki oleh orang yang mau menyalahi syari’at Allah dan sunnah Rasul-Nya, yakni para walinya syaitan.
- 2. Model Materialnya
Berdasarkan model materialnya, ada kasyf maknawi dan kasyf suri. Kasyf maknawi adalah keterbukaan atas makna-makna dibalik suatu peristiwa atau materi tertentu, dalam bentuk kepahaman dan pemahaman. Orang yang menerima kasyf maknawi akan dapat memahami suatu peristiwa, misalnya mengapa hujan tidak turun di daerah itu, dan bagaimana agar hujan bisa turun di tempat itu. Atau mungkin seseorang mengetahui maziyah (keistimewaan) energi alamiah pada sebuah batu tertentu, atau benda-benda tertentu, misalnya benda-benda kuno.
Sedangkan kasyf suri adalah ketersingkapan atas rahasia dibalik suatu peristiwa atau materi tertentu berupa bentuk-bentuk yang melambangkan makna dan rahasia di balik peristiwa dan materi tertentu, misalnya melihat ular naga dibalik batu mulia, atau benda-benda kuno atau melihat makhluk-makhluk ghaib, seperti jin atau yang sebangsanya diantara peristiwa-peristiwa.
Baik kasyf maknawi maupun kasyf suri, secara syar’inya bisa terjadi dua kemungkinan, yakni bisa nabawi (atau malaikati) yang intinya secara materialnya adalah positif menurut tinjauan syari’atnya. Bisa juga negatif (kasyf syaithani). Hal ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor psikologis yang berupa ketulusan motivasi orang yang mengalami kasyf tersebut. Bukan karena faktor amaliah atau jenis amalan yang diwiridkan, tetapi lebih banyak pada motivasi pengamalan tersebut.
Di antara kasyf terbesar Rasulullah adalah peristiwa isro’ mi’roj Nabi. Peristiwa yang terjadi ketika Nabi mengalami masa-masa berkabung (’amul huzni), karena meninggalnya kedua pelindung beliau (pamannya yaitu Abdul Mutholib dan istri tercintanya, yaitu sayyidah Khodijah).
- F. Bagaimana Terjadinya Kasyf
Kasyf biasanya terjadi ketika seseorang sedang mengerjakan suatu aktivitas yang dapat mempengaruhi ketenangan jiwanya, misalnya puasa yang terus menerus, atau dzikir dan meditasi atau prihatin dan mengalami penderitaan batin yang lama, sehingga keluar dari kemampuan dan daya tahan psikologisnya. Misalnya, kasyf yang dialami oleh Nabi Muhammad saw, ketika beliau melakukan meditasi (tahannuts) yang terus menerus di gua hira, maka beliau mendapat pencerahan sampai ketemu malaikat Jibril dan menerima pesan spiritual surat al-‘Alaq ayat 1-5.
Ketika perjalanan spiritualnya mendekati masa puncaknya, maka nabi dapat mendengarkan ucapan salam dari bebatuan dan rerumputan yang ada di sekitar beliau. Sampai akhirnya beliau bertemu dengan malaikat Jibril, malaikat pembawa ilmu pengetahuan yang menjadi mediator antara alam abstrak murni dengan alam realitas indrawi, yang biasa disebut sebagai ’aqal ke sepuluh (al-’aql al-’asyirah).
Malaikat inilah yang selalu menyertai para rasul utusan Allah, sehingga mereka mengetahui berita dari alam ghaib tentang hakekat kehidupan di dunia dan kehidupan nanti di akhirat, itulah sebabnya sehingga mereka disebut sebagai an- Nabi (pembawa berita agung). termasuk di antaranya adalah Nabi Muhammad utusan Allah. Beliau berkenalan pertama dengan Malaikat Jibril ya di gua hiro’ itu. Dan ketika itulah maka belalu menerima wahyu kenabian dan kerasulan sekaligus.
Juga ketika beliau dirundung duka atas meninggalnya paman dan istrinya yang tercinta, sementara perjuangannya belum sukses, maka ketika beliau tahajud di dekat ka’bah pada dini hari, beliau menerima kasyf yang berupa isra’ mi’raj, yang merupakan puncak pengalaman spiritual beliau. Beliau tadzzkkur di hijril ismail di saat dini hari sampai dengan menjelang subuh. Selanjutnya beliau merasakan ada dua orang malaikat yang membawanya ke sumur zam-zam dan membelah dada beliau, mencuci hatinya dengan air zam-zam dan mengisi dadanya dengan mutiara. Selanjutnya beliau merasa dinaikkan pada seokor kendaraan semacam keledai yang sangat indah dan membawanya terbang dengan kecepatan tinggi.
Nabi merasa telah melalui jalan-jalannya yang dilewati para musafir dan selanjutnya sampai di masjidil aqsha. Sholat di situ beberapa raka’at dan terus mengalami mi’roj (naik), menuju ke hadirat Allah dengan melalui pos-pos langit yang didiami oleh para Nabi rasul sebelum beliau. Bahkan beliau juga sempat mengunjungi surga dan neraka, sebagai tempat kembali manusia dari dunia. Selanjutnya beliau menghadap ke hadirat Allah (sidrah muntaha) tempat terakhir yang bisa dicapai oleh Nabi Muhammad sendiri, tanpa malaikat jibril. Ini semua dialami oleh Nabi sampai kembali ke tempat duduknya, tetapi tempat duduknya masih hangat.
BAB III
DESKRIPSI RIWAYAT LAILATUL QADAR
- A. Sejarah terjadinya Lailatul Qadar
Lailaitul Qadar terjadi dan dialami oleh Rasulullah saw, pada hari Senin, tanggal 21 Ramadlan, tahun 610 M. ketika beliau bertahannuts, di gua hira yang terus menerus (intensif).menjelang akhir bulan Ramadlan. Dan menjelang akhir malam. Ketika itu Nabi berusia 40 tahun. Tentang tanggal terjadinya, para ahli sejarah terjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang berpendapat tanggal 17 Ramadlan, sementara ada yang tanggal 21 Ramadlan (ini yang lebih kuat).
Tahannuts, adalah berdiam diri di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian manusia, dan nabi melakukannya di gua hira, sebuah gua kecil di atas gunung cahaya (jabal nur), sekitar 5 km arah utara kota Makkah. Tahannuts ini telah menjadi tradisi para nabi atau pencari kebenaran, bahkan juga masyarakat Arab, jika mereka menghadapi masalah-masalah penting. Untuk mendapatkan solusi dan jalan keluar, mereka melakukan tahannuts di gua-gua yang jauh dari keramaian kota.
Demikian juga Nabi Muhammad juga telah cukup lama punya kebiasaan melakukan tahannas, dan gua yang dijadikan tempat langganan beliau adalah gua hiro”. Sebuah gua yang terletak di puncak jabar nur (sebuah gunung batu yang terletak sekitar 5 km arah utara kota Makkah). Gua ini posisinya sangat bagus, karena di samping tempatnya susah di dapatkan juga kebetulan bentuk dalam gua persisi menyerupai mihrob (pengimaman), dan di arah depannya ada celah yang lurus pandang menuju ke ka’bah.
Ketika menjelang malam ke tujuh belas bulan Ramadlan, Nabi sudah merasakan ke anehan-keanehan seperti alam lingkungannya menjadi asri dan bersahabat, bahkan rerumputan dan bebatuan menyalaminyi. Sampai akhirnya di waktu dini hari, beliau merasakan didatangi oleh seorang laki-laki yang berpakaian serba putih dengan rambut hitam pekat, yaitu Malaikat Jibril.
Malaikat Jibril itu menyapa beliau dan mengatakan bahwa ia adalah utusan Allah, untuk menyatakan bahwa dia (Muhammad ibn Abdullah), kini diangkat sebagai seorang Nabi (orang yang berhak mendapat akses ke alam rohaniyah).Malaikat intu menunjukkan selembar kertas yang berisi tulisan dan memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk membacanya, seraya berkata;
”bacalah hai Muhammad” sampai diulang tiga kali, nabi tetap menjawab, ” saya tidak bisa membaca”. Baru kemudian malaikat tersebut membacakan tulisan yang ada di lembaran tersebut, yaitu kalimat yang ada pada ayat 1-5 surat al-’alaq.
Nabi merasakan didekap oleh orang tersebut sampai nabi merasakan sesak nafas, dan gemetaran, dan kemudian Nabi pulang ke rumah sayyidah Khadijah masih dalam keadaan gemetaran dan kedinginan, dan minta diselimuti oleh istrinya.
- B. Ayat-ayat tentang Lailatul Qadar
Di dalam al-Qur’an hanya ada tiga term lailatul qadar, yaitu yang terdapat dalam ayat 1, 2 dan 3, surat al-Qadar (97). Dan tidak ada lagi ayat lain yang memuat term tersebut.
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû Ï’s#øs9 Íôs)ø9$# ÇÊÈ !$tBur y71u÷r& $tB ä’s#øs9 Íôs)ø9$# ÇËÈ ä’s#øs9 Íôs)ø9$# ×öy{ ô`ÏiB É#ø9r& 9öky ÇÌÈ ãA¨t\s? èps3Í´¯»n=yJø9$# ßyr9$#ur $pkÏù ÈbøÎ*Î/ NÍkÍh5u `ÏiB Èe@ä. 9öDr& ÇÍÈ íO»n=y }Ïd 4Ó®Lym Æìn=ôÜtB Ìôfxÿø9$# ÇÎÈ
Artinya:
- Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Quran) pada lailatul qadar, (malam kemuliaan)[1593].
- Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu?
- Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan.
- Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
- Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
[1593] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya al-Quran.
- C. Hadis Nabi tentang Lailatul Qadar
Beberapa pernyataan tentang lailatul qadar ini antara lain:
- Abu Hurairah ra berkata: Ketika hampir tiba bulan Ramadlan Rasulullah saw bersabda: “Kini telah tiba padamu bulan Ramadlan, bulan yang diberkahi, Allah mewajibkan atas kamu berpuasa, dibuka semua pintu surga, dan ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan. Di dalam bulan Ramadlan ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, maka siapa yang tidak mendapatkannya berarti kecewa.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).
- Abu Hurairah berkata:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قام ليلة القدر ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه (رواه البخارى والمسلم).
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang bangun di malam lailatul qadar, terdorong karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya di waktu lampau.” (HR. Bukhari-Muslim).
- Aisyah ra berkata: “Apabila Nabi memasuki malam-malam akhir (21-23-25-27-29) bulan Ramadlan, dari malam 21-30. Bangun semalaman suntuk dan membangunkan istri-istrinya, dan mengeratkan ikat pinggang. Biasanya Rasulullah saw, lebih rajin ibadahnya pada malam likuran bulan Ramadlan, lebih dari malam-malam lainnya.” (HR. Muslim).
- Hari Senin adalah hari lahirku, juga hari aku diutus (karena hari itu turunnya wahyu pertama). (al-Hadits).
IV
ANALISIS PSIKO-SUFISTIK
ATAS PERISTIWA LAILATUL QADAR
- A. Analisis Kebahasaan dan Historis
Secara kebahasaan dan historis, peristiwa lailatul qadar yang disebutkan dalam ayat 1, 2 dan 3, surat al-Qadar dapat disibak makna dan hakekat apa yang dimaksudkan dengan lailatul qadar, yang cukup misterius dan menjadi teka-teki yang akhirnya menjadi keyakinan yang seringkali terasa dipaksakan, karena tidak rasional. Kita kembali memakai rumus, al-‘ibrah bi ‘umumil lafazh, laa bi khusushis sabab (makna dari arti umum lafad, bukan arti khusus sebab turunnya ajaran).
Lailatul qadar terdiri dari dua kata bahasa Arab, lailat/h (malam), al-qadar (ketentuan, ukuran, penentuan), sehingga lailatul qadar berarti malam ketentuan/malam penentuan. Sedangkan secara istilah, lailatul qadar berarti malam dimana Allah menurunkan para malaikat langit untuk mengurus berbagai persoalan kehidupan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Sementara pemahaman umum adalah malam dimana Allah akan melipat ganda pahala amal perbuatan manusia sampai bernilai lebih baik dari seribu bulan. Sedangkan makna alternatif adalah suatu malam dimana Allah menentukan keadaan kejiwaan, pemikiran, nasib dan amal seseorang sampai terjadi perubahan pola piker dan sikap mentalnya.
Secara historis, lailatul qadar terjadi:
Nabi sudah berumur 40 tahun, umur dimana puncak kecerdasan spiritual mencapai masa klimaksnya yang pertama. Yang biasanya akan terjadi lagi pada umur 50 dan 60 tahun.
Nabi dalam kondisi dirundung duka memikirkan kerusakan moral masyarakatnya, secara terus menerus memohon petunjuk Allah akan kebenaran jalan hidup yang dapat membimbing masyarakatnya menuju jalan hidup yang benar dan diridlai Allah.
Nabi dalam keadaan meditasi di gua hira, gua yang terletak di tempat yang sangat sulit dicapai orang, gua ini berbentuk persis menyerupai mihrab (pengimaman mushalla kecil), di tebing gunung hira 20 m dari puncak. Dan kebetulan gua ini membelakangi ka’bah persis, sehingga orang yang meditasi atau shalat di situ persis menghadap ka’bah, dan kebetulan lagi dinding belakangnya ada celah yang secara otomatis ka’bah terlihat dari situ.
Terjadi akhir bulan Ramadlan antara tanggal 17 dan atau 21 Ramadlan. Waktu dimana riyadlah (tirakat) atau tahannuts sudah dilaksanakan cukup lama. Riyadlah (tirakat), adalah proses pendewasaan spiritual, sebagaimana proses pengeraman telur untuk sebuah penetasan atau proses pengepompongan sehingga terjadinya metamorphose. Maka lailatul qadar ini, mungkin saja terjadi tanggal 17 Ramadlan karena Nabi memulai tahannuts sebelum masuk bulan Ramadlan, atau memang tanggal 21 Ramadlan karena Nabi memang memulai riyadlah awal Ramadlan.
Terjadi di akhir malam, menjelang fajar adalah waktu yang paling kondusif untuk terjadinya pencerahan. Karena secara etener waktu tersebut sangat kondusif untuk perjalanan bahasa dan suara batin, seperti;doa-doa, panggilan dan komunikasi batin (telepati), dan lain-lain yang bersifat spiritual, termasuk di dalamnya kemungkinan terjadinya kasyf (pencerahan).
Nabi merasakan gemetar dan keringat dingin, sampai pulang ke rumah istrinya. Dan pada kesempatan berikutnya istri Nabi mengajak nabi untuk berkonsultasi kepada rahib (Waraqah ibn Naufal) yang masih paman dari sidi Khadijah. Dan beliau meyakinkan bahwa yang menemui beliau di gua hiro’ itu adalah namus (jibril), malaikat yang membawa wahyu untuk para Nabi dan Rasulullah.
- B. Lailatul Qadar adalah Kasyf Nabawi
Atas dasar analisis interdisipliner tersebut, maka dapat dikatakan, bahwa lailatul qadar adalah jenis kasyf nabawi, baik yang dialami oleh Nabi Muhammad sendiri (pada malam turunnya wahyu pertama), maupun yang dialami oleh umat Islam pada tanggal-tanggal likuran (20-30 Ramadlan), atas ketekunan an ketulusannya dalam menunaikan ibadah puasa adalah jenis kasyf nabawi.
Karena lailatul qadar adalah termasuk dari jenis kasyf nabawi (positif), maka lailatul qadar adalah peristiwa individual psikologis. Artinya dialami, dirasakan secara perorangan dan bersifat kejiwaan. Bukan peristiwa komunal dan kosmologis sebagaimana pemahaman masyarakat umum. Lailtul qadar adalah pencerahan yang dialami dan dirasakan oleh orang yang menjalani riyadlah (latihan kejiwaan), dengan serius sebagaimana puasa di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan ketulusan hati.
Karena Lailatul qadar adalah jenis kasyf nabawi, maka lailatul qadar tidak mungkin dialami oleh orang yang tidak melakukan riyadlah dengan niatan iimanan wahtisaaban dalam waktu yang sudah cukup lama (sekitar 20 harian). Karena lailatul qadar adalah pencerahan agung yang dapat merubah orientasi, motivasi dan sikap mental seseorang sehingga nilainya lebih baik daripada seribu bulan, maka lailatul qadar dapat diibaratkan sebagai metamorphose spiritual.
Kenapa ungkapan-ungkapan Nabi tentang lailatul qadar kok tampak bersifat komunal, kosmologis dalam arti; bahwa lailatul qadar adalah suatu malam yang akan melibatkan semua makhluk yang ada pada saat itu? Jawabannya adalah karena kebijakan nabi dalam mengkomunikasikan ajarannya kepada para sahabatnya. Nabi senantiasa berbicara dengan orang lain sesuai dengan kadar inteligensi orang yang diajak bicara. Pemahaman seperti itulah yang dapat difahami oleh masyarakatnya.
Tanda-tanda alam yang syahdu, damai dan harmani adalah perasaan si penerima kasyf tersebut (lailatul qadar itu), tidak terjadi secara alamiah yang dapat dilihat dan dirasakan oleh semua orang, yang tidak sedang mengalami pencerahan itu. Karena kasyf tersebut yang akan menyelaraskan (harmonisasi) psikologis yang bersangkutan sehingga serasa indah alam sekitarnya dan bahkan berubah sama sekali kepribadiannya.
Lailatul qadar dicari di selama bulan Ramadlan saja, adalah karena bulan Ramadlan merupakan bulan riyadlah (latihan kejiwaan), bagi umat Islam. Ajaran Islam didesain dengan kelengkapan latihan kejiwaan, sebagai upaya harmonisasi integral kepribadian seorang muslim. Puasa Ramadlan dan semua sistem yang ada di bulan Ramadlan, adalah lembaga resmi pembinaan kejiwaan umat Islam, sehingga pada dasarnya latihan kejiwaan seperti di bulan Ramadlan juga dapat di lakukan di luar Ramadlan, demikian juga hasilnya, yakni menerima pencerahan yang disebut lailatul qadar.
Hampir semua tradisi ketimuran (Hindu,Budha,khong Huchu, Jawa, dll), mengenal tradisi tirakat (latihan spiritual) untuk mempersiapkan jiwa dan raga menerima tugas dan tanggung jawab sosial yang besar, dengan berbagai macam jenis puasa dan laku. Ada puasa patigeni, puasa mutih, puasa ngalong, ngrowot dan lain-lain. Dengan masa yang berfariasi, 3 hari, 7 hari 41 hari satu tahun dan sebagainya. Dengan menyedikitkan makan,minum, tidur dan sek, serta memperbanyak dzikir dan ibadah kepada Allah.
Dengan mengamalkan latihan spiritual yang sama dengan apa yang diajarkan oleh Rasullah, dalam rentang waktu yang sama akan memberikan dampak dan efek pencerahan yang tidak jauh berbeda, yakni kasyf nabawi yang akan mampu merubah kepribadian seseorang. Tetapi sudah barang tentu tidak sama kalam kaitannya dengan berbedanya kondisi sosiologis, antara bulan Ramadlon dan bukan bulan ramadlon.
Kebaikan dan pahala yang sangat besar (lebih baik dari beramal seribu bulan) di luar malam itu, adalah karena beramal dalam keadaan kasyf adalah benar-benar (ikhlas, tulus dan masuk ke alam ketuhanan, maka sudah barang tentu diterima oleh Allah, yang nilainya lebih baik dari pada beramal seribu bulan di luar lailatul qadar, karena amal itu belum tentu diterima oleh Allah. Demikian juga ilmu yang diperoleh pada waktu kasyf itu manfaatnya dalam merubah perilaku dan sikap mental akan lebih baik daripada ilmu yang diperoleh melalui belajar biasa dalam waktu puluhan tahun, sehingga malam itu nilainya lebih baik dari pada seribu bulan.
Sehingga lailatul qadar dapat analogkan dengan malam menetasnya telur ayam dan bangsa burung, atau malam terjadinya metamorphose kepompongnya berbagai jenis serangga menjadi kupu-kupu dan sebangsanya. Malam perubahan yang sangat drastis, fantastis dan dramatis. Walaupun mungkin juga terjadi di siang hari, tetapi ini sangat jarang. Sehingga tidak dikenal istilah naharul qadar (siang penentuan).
Lailatul qadar akan merubah anatomi spiritual manusia, dari bentuk hayawani (kebinatangan), menjadi berbentuk malaikati. Dan dengan berubahnya bentuk anatomi seseorang, maka akan berubah pula makanan dan kegemaran rohaniyahnya. Sebagai makanan hewani dengan makanan malaikati. Yang semula kegemarannya bersifat materialistic menjadi gemar hal-hal spiritualistic.
- C. Implikasi Kasyf Nabawi “Lailatul Qadar” atas Perilaku Umat Islam
Pemahaman lailatul qadar yang rasional ini akan berimplikasi positif yang sangat besar, setidaknya adanya perubahan perilaku dan sikap mental setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadlan. Karena kriteria suksesnya puasa Ramadlan adalah kembalinya kepada fitrah kemalaikatan pada diri manusia.
Karena jika seseorang mengalami kasyf yang merupakan buah dari keseriusannya dalam beribadah di bulan Ramadlan, maka ia akan memiliki perubahan mentalitas dan moralitas yang baru. Maka ia akan menjadi pribadi baru yang;
- Spiritualis, artinya ia akan sangat peka terhadap isyarat-isyarat spiritual dari Allah swt. Ia adalah pribadi yang dapat merasakan nikmatnya peribadatan dan juga memiliki orientasi ruhaniyah dalam kehidupannya.
- Humanis, artinya ia akan memiliki kepekaan social yang sangat baik. Pribadi humanis adalah pribadi yang sangat peduli terhadap kondisi nasib kemanusiaan, serta memiliki tenggang rasa yang tinggi.
- Harmonis, artinya ia akan menjadi pribadi yang memiliki keseimbangan antara komunikasi vertikal (dengan Allah), dan komunikasi horizontal (dengan sesama manusia). Ia akan dapat memiliki kepribadian think universally (berfikir luas) ackting locally (bertindak lokal). Ia akan memiliki jiwa seni dan ilmu secara seimbang.
- Beretos kerja tinggi, orang yang mendapat pencerahan lailatul qadar, ia kan memiliki semangat berkarya, karena akan memiliki faham bahwa bekerja adalah ibadah, bekerja sesuai dengan profesinya adalah merupakan tugas utama hidup manusia sebagai khalifatullah di muka bumi.
- Dirinya menyadari bahwa hidup adalah tugas untuk beramal yang sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya.
- D. Upaya Mendapatkan Lailatul Qadar yang Produktif
Agar dapat menggapai lailatul qadar yang lebih produktif, yakni selain mendapat manfa’at uhrawi juga mendapat manfaat duniawi atau ijtima’i (sosiologis) ka cara-cara konvensional, seperti ngambeng (shadaqah makanan di malam-malam ganjil bulan Ramadlan, i’tikaf di malam-malam ganjil tersebut dan juga mujahadah di malam-malam tersebut) adalah tidak cukup. Keseriusan puasa dan beramal di bulan Ramadlan tidak hanya pada malam-malam likuran, tetapi sejak awal bulan Ramadlan, bahkan sampai seterusnya.
Bahkan keseriusan dan kesabaran dalam beribadah puasa di bulan Ramadlan harus di mulai sejak awal bulan Ramadlan, dengan;
- Menjaga syarat rukunnya puasa,
- Menjaga puasa dari hal-halnya yang membatalkan pahalanya puasa,
- Menjaga tujuh anggota tubuh dari maksiat kepada Allah.
- Menjaga hati dari melupakan Allah.
- Menghayati bahwa puasa Ramadlan adalah forum ‘pertapaan’ bagi umat Islam.
Syarat-rukun puasa adalah pengkondisian jiwa dengan meibatkan anggota badan, khususnya yang terkait dengan sumber energi seseorang, yaitu makanan dan minuman serta hubungan seksual. Dengan pembatasan pemenuhan kebutuhan tersebut, jasmani akan mengalami kelemahan dan kreatifitas rohani dan intelek akan menguat.
Hal-hal yang membatalkan pahalanya puasa adalah sebetulnya esensi dari makna puasa itu, menghindari dan menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan pahalanya puasa adalah puasanya jiwa. Dengan melaksanakan pauasanya jiwa, maka jiwa akan cepat mengalami kematangan.
Demikian juga menjaga anggota tubuh untuk melakukan maksiat kepada Allah Allah adalah puasanya rohani.Dengan konsentrasi dari tiga anggota dasar kemanusiaan jasad, jiwa dan ruh, yang terkonsentrasi dalam ta’at kepada Allah dan senantiasa mengharap ridlo Allah, maka seseorang akan dapat mengalami pencerahan (kasyf) yang nilainya kebaikannya lebih baik dari seribu bulan.
Penghayatan bahwa bulan ramadlan adalah bulan pertapaan bagi umat islam adalah sangat penting. Bukan sekedar untuk kepentingan akhirat dan terlepas dari kepentingan duniawi. Konsep Islam bahwa dunia dan akhirat adalah dua alam yang tidak terpisah tetapi satu kesatuan. Semua amaliyah keislaman memiliki manfa’at dua dimensi, yakni dunia-akhirat.
Konsep lailatul qadar yang produktif memiliki dampak dan menjadikan pribadi yang sholih secara spiritual dan sekaligus sholih secara sosial. Pribadi yang mengalami lailatul qadar akan berubah secara psikologis dan performentnya sebagai mana makhluk lain mengalami metamorfose, maka pada diri manusia disebut metamorphose spiritual.
Jadi badan spiritualnya-lah yang mengalami metamorphose, maka konsumsi spiritual dan kesenangannya juga mengalami perubahan yang sangat drastis dan fantastis. Sebagamana ulat yang telah berubah menjadi kupu-kupu. Semula ia senang daun muda dan bergerak melata, berupa menjadi senang madu dan bunga-bunga, sedangkan cara geraknya menjadi terbang.
Orang yang mengalami peristiwa lailatul qadar organ ruhaninya mengalami perubahan struktur maka konsumsi dan tabi’atnyapun juga berubah. Yang semula kesukaannya makan ’daunmuda’ dan melata di tanah, akan berubah bergerak di alam’’ angkasa’ dan makan madu (manisnya peribadatan dan pendekatan diri kehadirat Tuhan).
Bab V
Pemahaman Rasional Penulis Atas Ajaran Islam
Walaupun penulis bukan penganut faham rasional dalam islam (Qadariyah atau mu’tazilah), tetapi penulis ingin menyampaikan bahwa islam sangat rasional, dan sangat serasi dengan perkembangan rasionalitas dalam peradaban mutaakhkhir ini. Karena sabda nabi addinu hual ‘aql laa diina liman laa ‘aqla lahu ( agama adalah akal, dan tidak beragama orang yang tidak beragama). Juga nabi pernah bersabda; diinul mar’I ‘aqluhu (agama seseorang adalah akalnya). Maka dapat dikatakan bahwa kwalitas keagamaanseseorang adalah sejauh mana pemahaman keagamaan seseorang rasionalitas dan penghayatan spiritualitasnya.
Khususnya bagi kaum cerdik pandai haruslah memiliki keseimbangan dengan spiritualitas, sedangkan kaum spiritualis harus meng up grade diri dengan intelektualitas, sehingga terbentuk pribadi cendikiawan yang sempurna (ahli fikir dan ahli dzikir) atau yang disebut dalam al-qur’an sebagai ulul albab. Untuk itu penulis paparkan beberapa pemikiran rasional tentang ajaran dasar dalam Islam, yaitu;
- Kalimat Tauhid (Laa ilaaha = 0, illa = , Allah=1)
Pada hakekatnya Islam adalah purifikasi (pemurnian kembali) ajaran agama-agama monotheis yang sudah ada sebelumnya. Bahkan islam meyakini, bahwa sejak pertama keberadaan manusia adalah monotheistik. Para rasul (mulai dari Adam s/d Muhammad) adalah utusan Tuhan untuk mengembalikan manusia kearah keyakinan yang benar yaitu tauhid.
ôs)s9ur $uZù=yör& Wxßâ `ÏiB y7Î=ö6s% $uZù=yèy_ur öNçlm; %[`ºurør& ZpÍhèur 4 $tBur tb%x. @AqßtÏ9 br& uÎAù't >pt$t«Î/ wÎ) ÈbøÎ*Î/ «!$# 3 Èe@ä3Ï9 9@y_r& Ò>$tGÅ2 ÇÌÑÈ
38. Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu].
Tujuan ayat Ini ialah pertama-tama untuk membantah ejekan-ejekan terhadap nabi Muhammad s.a.w. dari pihak musuh-musuh beliau, Karena hal itu merendahkan martabat kenabian. keduanya untuk membantah pendapat mereka bahwa seorang Rasul itu dapat melakukan mukjizat yang diberikan Allah kepada rasul-Nya bilamana diperlukan, bukan untuk dijadikan permainan. bagi tiap-tiap Rasul itu ada kitabnya yang sesuai dengan keadaan masanya.
Keyakinan bahwa Tuhan adalah Esa (dzat, sifat, maupun perbuatan-Nya). Karena keyakinan ini adalah keyakinan yang berdiri tegak di antara grafitasi akal indrawi manusia, ke kanan (syirk) dan ke kiri (atheis). Beratnya menegakkan tauhid sama dengan beratnya menegakkan jarum penunjuk dalam posisi tegak lurus, karena ia akan tertarik oleh grafitasi (nafsu kebinatangan yang animistik) dan nafsu (keiblisan yang atheistik).
Dorongan jiwa mempertuhan banyak oknum dan meniadakan Tuhan sama sekali. Fungsi kerasulan yang paling utama adalah menjaga stabilitas keyakinan tauhid ini bagi umatnya.
Kalimat tauhid yang diproklamirkan oleh setiap rasul adalah satu, yaitu; Laa ilaaha illa Allah (tiada Tuhan kecuali Allah). Kalimat ini sebenarnya memiliki kandungan makna yang sangat tinggi. Inilah hikmah tertinggi yang diucapkan oleh setiap rasul.
أفضل ما قلت انا و النبيون من قبلى لا اله الا الله. [6]
“seutama-utamanya apa yang pernah kuucapkan dan juga diucapkan oleh para nabi sebelumku adalah laa ilaaha illa Allah”.
Yang seandainya ditimbang dengan tujuh langit dan tujuh bumi dijadikan satu dengan kalimat tersebut saja, maka kalimat tersebut masih lebih berat.
Ini adalah adalah kalimat jami’ (mengumpulkan makna) dan mani’ (menghalangi masuknya alasan lain) artinya kalimat yang sangat simple tetapi sangat padat makna. Dan kalimat ini yang menjadi rumus kehidupan dunia dan akhirat. Kalimat ini pula yang menjadi kunci bagi surga dunia dan akhirat.
Kalimat Tauhid (Laa ilaaha illa Allah) mengandung makna syimbolik huruf biner yang menjadi kunci pembuka seluruh perkembangan ilmu pengetahuan dan bahasa tehnologi (khususnya tehnologi modern informatika). Karena kalimat tersebut sebenarnya merupakan simbul 0.1. Laa ilaaha = 0, illa = , Allah=1. Demikian juga kalimat tersebut mela
mbangkan kode negatif (-) dan positif (+) merupakan lambang energi listrik dan elektro-magnetika.
Di antara angka 0 dan angka 1, maka angka satu-lah yang memiliki nilai, sedangkan 0 tidak bernilai tetapi keberadaannya penting. Dengan demikian inti ajaran islam adalah keesaan Tuhan, bukan ke tidak adaan Tuhan. Tetapi dalam satu kesatuan, antara 0 (selain Tuhan ) dan 1 (Tuhan), adalah suatu relasi aktif yang sangat penting dan sangat menentukan keberadaan dan dinamika di alam semesta.
Sebagaimana semua jenis produk tehnologi modern (elektronika digital), adalah susunan dari susunan bilangan biner 0.1 tersebut atau lompatan energi dari positif ke negatif, maka pengulangan bacaan kalimat tauhid tersebut berarti gerakan (transformasi) energi dari positif ke negatif atau putus dan sambungnya energi dari positif (+) ke negatif (-). Atau sama dengan penyusunan bilangan biner (bagi bahasa komputer) sehingga dapat menimbulkan energi yang memiliki dampak spiritual besar (seperti; menebalkan iman, membersihkan jiwa, dan membuka pintu kebahagian dan kebermaknaan hidup).
جد د وا ايمانكم! كيف نجد د ايماننا يا رسول الله؟ اكثروا بقول لا اله الا الله. [7]
Kalimat tauhid (Laa ilaaha illa Allah), adalah misi perjuangan para rasul. Ia harus dipegangi oleh setiap muslim baik secara dhohir (teks kalimat) maupun makna kalimat (batinnya). Banyak hadis Nabi yang menganjurkan memperbanyak membaca kalimat tauhid tersebut dengan dinyatakan berbagai manfa’at dan keutamaannya. Misalnya Nabi memerintahkan sahabatnya untuk memperbaharui iman dengan cara memperbanyak membaca kalimat tauhid tersebut. Demikian juga banyak pernyataan Nabi yang menunjukkan betapa pentingnya memegangi makna kalimat tauhid tersebut. Misalnya pernyataan Nabi bahwa beliau diutus oleh Allah di dunia ini adalah untuk menegakkan kalimat tauhid ini.
Kalimat thoyyibah tersebut selanjutnya juga akan tumbuh menjadi pohon spiritual kalimat-kalimat thoyyibah berikut; akarnya= kalimat syahadat, batangnya iman, daunnya sholawat, buahnya dzikir dan bunganya puji-pujian.
- Malaikat Sebagai Mediator
ª!$# Å“sÜóÁt ÆÏB Ïpx6Í´¯»n=yJø9$# Wxßâ ÆÏBur Ĩ$¨Z9$# 4 cÎ) ©!$# 7ìÏJy ×ÅÁt/ ÇÐÎÈ
75. Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Melihat.
Malaikat adalah utusan sebagai mediator antara dzat mutlak dengan dzat nisbi dari pihak alam murni (alam ketuhanan). Sebagaimana rasul dan nabi yang juga sebagai mediator dari pihak alam materi (alam makhluk). Dengan melalui sistem tranmisi yang sangat lembut dan rumit. Yakni sistem penyelarasan frekwensi gelombang.Gelombang kejernihan dan keheningan jiwa.
Tuhan adalah dzat mutlak yang tidak mungkin dapat ditangkap oleh dzat yang sangat nisbi. Dengan adanya malaikat maka suara batin manusia dapat mengalir ke alam ketuhanan. Begitu pula dengan perantaraan malaikat, bahasa dan suara Tuhan masuk ke dalam alam batin manusia.
Wujud malaikat adalah cahaya yang jika dimodulasi bisa berbentuk getaran atau gelombang-gelombang elektromagnetik dengan berbagai frekwensinya. (Sebagaimana jenis dan macam malaikat). Gelombang-gelombang invisible (tak terjangkau oleh indra manusia), baik invisible karena suprasonic maupun karena infrasonic. Gelombang yang sangat pendek maupun sangat panjang, sehingga indra manusia tidak mampu untuk melihat atau mendengarnya.Wilayah inilah yang biasa disebut metafisika. Sehingga kalau dianimasikan dalam suatu bentuk personifikasi, maka wujud malaikat adalah sangat besar sekali. Dikhabarkan bahwa, besarnya kepala izroil (malaikat pencabut nyawa) diumpamakan jika seluruh air yang ada di semua lautan dipakai untuk mengguyur kepalanya, maka belum seluruh rambut di kepala malaikat itu basah, saking besarnya.sementara air yang ada di dunia ini sudah tidak ada setetespun.[8]
Wujud-wujud malaikati yang mungkin sudah dapat dideteksi oleh tehnologi modern (walaupun itu mungkin yang paling kasar) adalah medan magnet dari gerakan-gerakan teratur manusia (jurus beladiri dan ritme ibadah yang tertib), atau wirid-wirid, juga energi hidup atau bioenergi yang biasa disebut sebagai aura. Baik yang ada pada tumbuhan, binatang maupun manusia. Demikian juga gelombang elektromagnetik yang berasal dari gerakan benda-benda mati, seperti dinamo dan motor, serta barang-barang elektronika.
Bagaimana dengan iblis ?.Iblis dan jin adalah makhluk Allah yang struktur tubuhnya juga berasal dari substansi materi lembut (api),walaupun tidak sebagaimana lembutnya malaikat, (malaikat dari cahaya atau nur). Energi malaikat cenderung positif, lembut dan halus, sedangkan energi iblis dan jin cenderung negatif. Api (Nar) adalah bentuk kasar dari cahaya (nur). Dia adalah substansi pengganggu, pembakar dan perusak sebagaimana virus dalam tehnologi informatika. Iblis atau jin bersifat mengganggu dari mekanisme kehidupan manusia, sebagaimana virus mengganggu program komputer.Virus hidup di tempat yang hidup dan mati di tempat yang mati. Wujud dari malaikat, iblis, dan jin bagi pandangan batin manusia adalah tergantung pada persepsi dan imajinasi manusia yang memandangnya. Sebagaimana cahaya maupun api akan berbentuk sebagaimana bentuk tempatnya.
- Kerasulan dan Kenabian
ôs)s9ur $uZ÷Wyèt/ Îû Èe@à2 7p¨Bé& »wqß§ Âcr& (#rßç6ôã$# ©!$# (#qç7Ï^tGô_$#ur |Nqäó»©Ü9$# ( Nßg÷YÏJsù ô`¨B yyd ª!$# Nßg÷YÏBur ïÆ¨B ôM¤)ym Ïmøn=tã ä’s#»n=Ò9$# 4 (#rçÅ¡sù Îû ÇÚöF{$# (#rãÝàR$$sù y#øx. c%x. èpt7É)»tã úüÎ/Éjs3ßJø9$# ÇÌÏÈ
36. Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Rasul dan Nabi berfungsi sebagai mediator antara dzat mutlak dengan dzat nisbi dari pihak alam materi). Alam materi (manusia secara umum) membutuhkan manusia khusus yang memiliki antena yang mampu menangkap sinyal kemalaikatan yang sangat halus. Harus ada diantara manusia yang memiliki kepekaan yang tajam untuk dapat menerima informasi dari alam murni (ketuhanan), yang berupa informasi dan instruksi-intruksi dari Tuhan. Itulah yang yang disebut ilham dan wahyu.
Berita agung itulah yang disebut naba’ yang pembawanya disebut Nabi. Sedangkan rasul adalah seorang nabi yang menjadi utusan resmi Allah yang membawa instruksi dari Tuhan tentang tatanan kehidupan yang dikehendaki oleh Tuhan yang disebut dengan syari’at. Sehingga setiap rasul pasti nabi tetapi tidak setiap nabi adalah rasul.
Selain sebagai mediator, rasul dan Nabi adalah sebagai pembawa cahaya dan sinar dalam kehidupan alam batin (ruhani) manusia. Rasul dan Nabi adalah mataharinya alam ruhani. Sinar dan cahayanya adalah ajaran dan syari’at yang dibawanya. Sebagai mataharinya alam ruhani, rasul dan Nabi sangat penting dan menentukan akan kelangsungan hidup keruhanian di dunia ini. karena dinamika kehidupan alam ruhani sangat tergantung pada ajaran yang dibawa oleh para rasul.
Sistim transmisi informasi dan instruksi dari Allah kepada umat manusia dapat digambarkan sebagai berikut;
- Syari’at formal yang berupa wahyu. Informasi dan instruksi dari Dzat mutlak ditransfer ke lauh al-mahfudz (hard disk alam semesta), dari sini kemudian dibawa ke bait al-izzah (langit dunia sebagai pusat pengolahan data dan sekaligus server), sampai di bait izzah data masih berupa bahasa binner yang terdiri dari simbul angka 0-1. (bahasa malaikati).Sehingga bukan huruf dan juga bukan suara, tetapi energi atau gelombang elektromagnetik. Kemudian dari sini data disampaikan oleh jibril dalam bahasa yang difahami oleh nabi atau rasul dalam bentuk sort massage servis (SMS). Kemudian nabi atau rasul menyampaikan kepada umatnya.
Khusus untuk teks al-qur’an, maka penyampaiaannya menggunakan methode scanning data dengan cara ‘SMS’.Demikian juga hadis qudsi, yang merupakan firman Allah yang ada pada kitab-kitab suci sebelum al-qur’an. Sedangkan untuk selain al-qur’an dan hadis qudsi, maka pewahyuan bersifat maknawi. Redaksi sesuai dengan kreatifitas kebahasaan nabi atau rasul yang bersangkutan.
- Informasi ghoib yang tidak formal (ilham dan inspirasi murni) personal. Diterima oleh orang yang memiliki kepekaan yang tinggi dalam menerima pancaran informasi yang terus menerus terpancar dari Dzat mutlak. Kepekaan spiritual itu bisa dimiliki oleh seseorang secara alami (sebagaimana para nabi dan wali al-murad), tapi juga bisa dimiliki oleh seseorang karena usaha pengasahan yang terus menerus (sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi dan para filosof). [9]
Rasul pembawa syari’at islam adalah Muhammad saw. Maka umat islam harus bersyaksi atas kerasulan ini, .محمد رسول اللهyang harus menyertai kesaksian akan keesaan Allah. Sehingga terbentuk duaa kalimat syahadat.
لا اله الا الله محمد رسول الله
- Kitab Suci dan Wahyu;
$uZ/u ô]yèö/$#ur öNÎgÏù Zwqßu öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Gt öNÍkön=tæ y7ÏG»t#uä ÞOßgßJÏk=yèãur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur öNÍkÏj.tãur 4 y7¨RÎ) |MRr& âÍyèø9$# ÞOÅ3ysø9$# ÇÊËÒÈ
129. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Kitab suci merupakan kumpulan dari wahyu yang diterima oleh Rasul Tuhan, adalah berisi pesan-pesan Tuhan dalam bahasa manusia, Sinar yang menimbulkan terang dalam mataharinya alam ruhani. Sebagaimana mataharinya alam bendawi yang terbit dari timur, kitab suci dan sistim pewahyuan juga terbit dari peradaban timur. Hindhu, Budha, Konghuchu, Yahudi, Nasrani, dan Islam. Berjalan menuju ke barat dan terbenam di sana.
Kepercayaan akan adanya kesucian sebuah kitab suci dan sistim perwahyuan merupakan dasar dan pokok dalam teologi islam. Sistem transmisi dengan methode ilahi (wahyu) perjalanannya dapat dianalogkan dengan sitem tehnologi informatika. Sumber berita adalah Allah al-kalim (yang berbicara).
Wahyu yang kemudiaan dikumpulkan dalam bentuk kitab yang disucikan oleh para penganut, sebagaimana dikatakan oleh kebanyakaan ulama’ salaf, bahwa ia bukan huruf dan bukan suara, sekarang dapat dimengerti. Karena memang berbentuk energi gelombang elektro magnetik. Jadi memang bukan huruf maupun suara.
Sedangkan huruf dan suara yang dikeluarkan oleh pembaca kitab suci adalah simbol-simbol dari wahyu Allah tersebut, sepanjang yang dapat ditangkap dan diungkapkan oleh manusia. Melalui antena spiritual manusia, khususnya manusia yang telah menyatu dengan alam semesta (man of universis).
BAB V
PENUTUP
- A. Kesimpulan
Lailatul qadar adalah malam terjadinya pencerahan atas orang-orang yang telah berhasil melaksanakan ibadah puasa Ramadlan dengan semangat iman dan ihtisaban (yakin dan instrospeksi diri).
Lailatul qadar bersifat personal psikologis, bukan komunal dan kosmologis.Artinya lailatul qadar akan terjadi pada diri seseorang dan dirasakan oleh yang mengalaminya saja. Bukan peristiwa alam yang dirasakan dan mengenai setiap orang yang ada pada saat itu.
Kebiasaan lailatul qadar terjadi di malam likuran adalah terkait dengan kematangan jiwa seseorang yang sedang b
]eribadah tersebut, bukan terkait dengan alam di luar dirinya.
Tanda-tanda bahwa seseorang telah mengalami malam lailatul qadar adalah; Terjadinya perubahan pola pikir atau sikap mental seseorang, juga perilakunya. Perubahan itu terjadi dari pola pikir, sikap mental dan perilaku yang hayawani atau syaithani, kepada pola pikir, sikap mental dan perilaku yang malaikati.
Agar dapat menggapai lailatul qadar yang lebih produktif, yakni selain mendapat manfaat ukhrawi juga mendapat manfaat duniawi atau ijtima’i (sosiologis), maka cara-cara konvensional, seperti ngambeng (shadaqah makanan di malam-malam ganjil bulan Ramadlan, i’tikaf di malam-malam ganjil tersebut dan juga mujahadah di malam-malam tersebut) adalah tidak cukup. Tetapi keseriusan dan kesabaran dalam beribadah puasa di bulan Ramadlan harus di mulai sejak awal bulan Ramadlan, dengan;
- Menjaga syarat rukunnya puasa,
- Menjaga puasa dari hal-halnya yang membatalkan pahalanya puasa,
- Menjaga tujuh anggota tubuh dari maksiat kepada Allah.
- Menjaga hati dari melupakan Allah.
- Menghayati bahwa puasa Ramadlan adalah forum ‘pertapaan’ bagi umat dirinya.
- B. Saran dan Implikasi
Kepada kaum muslimin diharapkan untuk dapat mengaplikasikan pemahaman keagamaan ini, agar lebih produktif amaliyah keagamaannya. Demikian juga halnya para cendekiawan untuk dapat mensosialisasikan hasil penelitian ini. Begitu juga penulis akan mensosialisasikan hasil temuan ini.
IDENTITAS DIRI
Nama : DR.H.Kharisudin Aqib, M.Ag
Jabatan : Pengasuh Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab.
NIP / NIK 150 262 489
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat dan Tanggal Lahir : Nganjuk, 17 Juli 1968
Status Perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Golongan / Pangkat : IV/A / Pembina
Jabatan Fungsional Akademik : Lektor Kepala
Perguruan Tinggi : IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Alamat : Jln.A.Yani 117 Wonocolo-Surabaya.
Telp / Faxs : 031 8410298 /0318413300.
Alamat Rumah : Kelutan-Ngronggot-Nganjuk
Telp / Faxs : 0358.792799.
E-mail : kharisuddinaqib@yahoo.co.id
RIWAYAT PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI
|
Tahun Lulus |
Jenjang |
Perguruan Tinggi |
Jurusan / Bidang Studi |
|
1990 |
S1 |
IAIN Sunan Ampel Sby |
Fak.Adab/BSA. |
|
1997 |
S2 |
IAIN Alauddin UPd. |
Dirasah Islamiyah |
|
2000 |
S3 |
IAIN Syarif Hidayatullah Jkt. |
Kajian Islam |
[1] Surat al-‘Ashr (surat 103), sebenarnya mengisyaratkan bahwa islam adalah agama masyarakat modern, karena secara bahasa ‘ashr adalah modern (waktu asar atau menjelang berakhirnya siang), sehingga wal ‘ashr juga berarti demi modernitas.
[2] Lihat Jalaluddin Abd al-Rahman al-Suyuti, Jami’ al-Shaghir, h.
[3] Harun Nasution, Mistisisme dalam Islam,
[4] Muhammad Amin al-Kurdi, Tanwir al-Qulub,
[5] Imam Muslim, Shahih Muslim,
[8] Baca misalnya kitab, Daqaiq al-Akhbar,
[9] Di samping ada informasi ghoib yang positif (dari dzat mutlak), ada juga informasi yang secara metafisika diterima oleh manusia yang berdimensi negatif yakni yang berasal dari hawa nafsu (suara batin yang kotor), atau dari energi negatif eksternaal (jin atau iblis), yang bersifat kosmik.
