<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Metafisika Center</title>
	<atom:link href="http://metafisika-center.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://metafisika-center.org</link>
	<description>The Methapysics - News - Study - Training And Research</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Feb 2012 07:48:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Upacara-upacara Ritual</title>
		<link>http://metafisika-center.org/382.html</link>
		<comments>http://metafisika-center.org/382.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Feb 2012 07:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metafisika-center.org/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[Upacara-upacara Ritual Dalam Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Oleh:Kharisudin Aqib[1] Yang dimaksudkan dengan upacara-upacara ritual adalah beberapa kegiatan yang &#8220;disakralkan&#8221;, dan mempunyai tatacara tertentu (upacara dan prosesi yang khidmat), dan membutuhkan keterlibatan bersama antara murid dan mursyid. Ada beberapa bentuk upacara ritual dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sebagai sebuah jam&#8217;iyyah.Yaitu; pembai&#8217;atan, khataman, dan manaqiban. Ketiga  bentuk  upacara  ritual  dalam  tarekat ini dilaksanakan oleh semua kemursyidan yang ada di In­donesia, dengan prosesi kurang lebih sama. Tapi dalam istilah (nama kegiatan) kadang berbeda, &#8230; <a href="http://metafisika-center.org/382.html" >&#8594;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><a title="upacara pembaiatan" href="http://metafisika-center.org/wp-content/uploads/2011/08/myalbum.html">Upacara-upacara Ritual</a></strong></p>
<p align="center"><strong><a title="upacara pembaiatan" href="http://metafisika-center.org/wp-content/uploads/2011/08/myalbum.html"><span style="text-decoration: underline;">Dalam Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah</span></a></strong></p>
<p align="center">Oleh:Kharisudin Aqib<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Yang dimaksudkan dengan <em>upacara</em>-upacara ritual adalah beberapa kegiatan yang &#8220;disakralkan&#8221;, dan mempunyai tatacara tertentu (upacara dan prosesi yang khidmat), dan membutuhkan keterlibatan bersama antara murid dan mursyid.</p>
<p>Ada beberapa bentuk upacara ritual dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sebagai sebuah jam&#8217;iyyah.Yaitu; pembai&#8217;atan, khataman, dan manaqiban. Ketiga  bentuk  upacara  ritual  dalam  tarekat ini dilaksanakan oleh semua kemursyidan yang ada di In­donesia, dengan prosesi kurang lebih sama. Tapi dalam istilah (nama kegiatan) kadang berbeda, untuk menunjuk pada suatu kegiatan yang sama. Seperti pembai&#8217;atan, ada sementara kemursyidan menyebutnya dengan penal-qinan. Demikian pula khataman, ada yang menyebutnya dengan istilah tawajjuhan. Tetapi perbedaan itu sama sekali tidak membedakan isi dan makna kegiatan tersebut.<span id="more-382"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1. Pembai&#8217;atan</p>
<p>Upacara pemberian khirqah, atau pentasbihan seseorang untuk menjadi murid, atau pengikut, atau pengamal ajaran tarekat ini disebut dengan mubaya&#8217;ah,  atau pentalqinan dzikr. Kedua istilah tersebut (bai&#8217;at dan talqin), dipergunakan dalam tarekat ini, dan populer di wilayah kemursyidan masing-masing.<a title="" href="#_ftn2"><sup><sup>[2]</sup></sup></a>&#8216;</p>
<p>Pembai&#8217;atan adalah sebuah prosesi perjanjian, antara seorang murid terhadap seorang mursyid. Seorang murid menyerahkan dirinya untuk dibina dan dibimbing dalam rangka membersihkan jiwanya, dan mendekatkan diri kepada Tuhannya. Dan selanjutnya seorang mursyid menerimannya dengan mengajarkan dzikr {talqin al-dzikr), kepadanya.</p>
<p>Upacara pembai&#8217;atan merupakan langkah awal yang harus dilalui oleh seorang salik, khususnya seorang yang memasuki jalan hidup kesufian melalui tarekat. Menurut para ahli tarekat &#8220;bai&#8217;at&#8221; merupakan syarat sahnya suatu&#8217; perjalanan spiritual (suluk).<a title="" href="#_ftn3"><sup><sup>[3]</sup></sup></a>) Sufi besar Abu Yazid al-Bustami, berkata, yang artinya kurang lebih:</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang tidak mempunyai guru , maka imamnya adalah setan. *<a title="" href="#_ftn4"><sup><sup>[4]</sup></sup></a></p>
<p>Menurut Syekh Abu Hafas al-Surahwardi perubahan status hukum riyadat al-nafs (termasuk pengamalan dzikr), antara yang dibai&#8217;at dengan yang tidak dibai&#8217;at, adalah sebagaimana perubahan status hukum hasil buruan anjing, antara hasil buruan anjing yang diajar dengan hasil buruan anjing yang tidak diajar.<a title="" href="#_ftn5"><sup><sup>[5]</sup></sup></a>&#8216; Sedangkan mengambil khirqah  atau bai&#8217;at itu diibaratkan  menyalakan lampu (lampu hati), kemudian mengambil api dari lampu yang telah menyala. Harus dipilih lampu yang nyalanya paling terang, yaitu yang diperoleh dari “api suci Rasulullah” dengan jalan  mutalaqqiyan  (secara estafeta berasal dan bersambung dengan Rasulullah), melalui para syekh dan mursyid sebelumnya.<a title="" href="#_ftn6"><sup><sup>[6]</sup></sup></a><sup>  </sup>Sehingga efek dan manfa’at dzikir terhadap perubahan akhlak dan sikap batin akan sangat berbeda antara yang dibai’atkan dengan yang tidak. Bahkan menurut para sufi, pengamalan kalimat tayyibah  tahlil tidak dianggap sebagai dzikr,  manakala tidak dibai&#8217;atkan oleh seorang mursyid yang sah. Tapi amalan tersebut hanya disebut sebagai tahlil, tidak dapat disebut sebagai dzikr?**  yang asror dan barokahnya sedikit.</p>
<p>Menurut  ketetapan Jam&#8217;iyyah Ahli Tarekat al-Mu&#8217;tabarah al-Nahdiyyah, hukum dasar bai&#8217;at dzikr  (tarekat) adalah al-sunnah al-Nabawiyah. Akan tetapi bisa menjadi wajib, apabila seseorang tidak dapat membersihkan jiwanya kecuali dengan bai&#8217;at itu. Dan bagi yang telah berbai&#8217;at, hukum mengamalkannya adalah wajib,<a title="" href="#_ftn7"><sup><sup>[7]</sup></sup></a> berdasarkan firman Allah dalam QS. al-Isra&#8217;:34, yang artinya &#8220;Tepatilah janji, karena janji itu akan dipertanyakan.&#8221;</p>
<p>Bentuk pembai&#8217;atan itu ada dua macam. Kedua macam pembaiatan ini dipraktekkan dalam tarekat ini, yaitu pembai&#8217;atan fardiyyah (individual), dan pembai&#8217;atan jam&#8217;iyyah (kolektif).<a title="" href="#_ftn8"><sup><sup>[8]</sup></sup></a>&#8216; Baik bai&#8217;at secara individual maupun kolektif, keduanya dilaksanakan dalam rangka melestarikan tradisi Rasul.<a title="" href="#_ftn9"><sup><sup>[9]</sup></sup></a>&#8216; Di antara hadis yang dipergunakan dasar antara lain:</p>
<p>a.   Bai&#8217;at fardiyyah</p>
<p>&#8220;Dari Ali ibn Abi Thalib, ia berkata: Ya Rasulullah,  tunjukkan kepadaku jalan yang paling dekat kepada Allah, paling mudah bagi hamba-Nya, tetapi paling utama menurut Allah: Rasulullah menjawab: &#8220;hai Ali hendaklah kamu senantiasa berzikir kepada Allah , baik secara sirri (batin) maupun jahr (bersuara) &#8220;.Maka Ali berkata: Ya Rasulullah setiap manusia telah biasa berzikir padahal aku ingin engkau memberikan secara khusus&#8221;. Rasulullah menjawab Ah kamu Ali,! seutama-utamanya apa yang aku ucapkan dan diucapkan oleh nabi sebelumku adalah kalimat &#8220;La ilaha illa Allah &#8220;. Seandainya tujuh langit dan tujuh bumi, dikumpulkan jadi satu dalam satu timbangan, maka pastilah kalimat &#8220;Lailaha ilia Allah &#8221; akan lebih berat.&#8221; (H.R. Yusuf al-Ajani)<a title="" href="#_ftn10"><sup><sup>[10]</sup></sup></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hadis tersebut didukung oleh hadis marfu&#8217; yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban, al-Hakim dan yang lainnya, tentang dialog Nabi Musa dengan Tuhan: yang artinya:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Ya Tuhanku ajarilah sesuatu yang dapat aku pergunakan dengan mengingat-Mu, dan untuk berdo&#8217;a kepada-Mu. Maka Allah berfirman: Hai Musa, katakan &#8220;La ilaha ilia Allah &#8220;. Maka Musa berkata : wahai Tuhan, semua hamba mengucapkan ini, Allah berfirman: ucapkan &#8220;La ilaha illa Allah&#8221;. Musa berkata: Ya Tuhanku, saya menginginkan sesuatu yang kau khusukan untukku. Allah berfirman: Wahai Musa seandainya langit yang tujuh, dan bumi yang tujuh dikumpulkan dalam satu timbangan, dan kalimat &#8220;La ilaha ilia Allah &#8221; dalam satunya lagi, maka pastilah &#8220;La ilaha illa Allah&#8221;akan miring ke bawah (lebih berat).&#8221; (HR. Ibnu Hibban, al-Hakim dan lainnya)<a title="" href="#_ftn11"><sup><sup>[11]</sup></sup></a>*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>b.   Bai&#8217;at Jam&#8217;iyyah (kolektif)</p>
<p>Baiat secara kolektif ini antara lain didasarkan pada hadis berikut ini: yang artinya: &#8220;Sesungguhnya Rasulullah SA W pada suatu hari sedang berkumpul dengan para sahabatnya, kemudian beliau bertanya: &#8220;Adakah diantara kalian orang asing ? yakni ahl al-kitab. &#8220;Mereka menjawab, tidak ada ya Rasulullah, &#8220;Maka Rasulullah menyuruh menutup pintu. Selanjutnya bersabda: &#8220;Angkatlah tangan kalian, dan katakan &#8220;La ilaha ilia Allah&#8221; Maka berkata Saddat ibn Aus: &#8220;Kami semua mengangkat tangan sesaat, dan mengucap &#8220;La ilaha ilia Allah.&#8221; Maka Rasulullah bersabda: &#8220;Ya Allah, sungguh Engkau akan mengutusku dengan kalimat ini, menyuruhku dengannya, kau janjikan kepadaku surga dengannya, dan sungguh Engkau tidakpernah menyalahijanji.&#8221; Kemudian Rasulullah bersabda: &#8220;Berbahagialah kalian semua, karena Allah akan mengampuni kamu semua.  (HR. Ahmad, Tabrani dan yang lain)<a title="" href="#_ftn12"><sup><sup>[12]</sup></sup></a>&#8216;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Prosesi pembai&#8217;atan dalam Tarekat Qadiriyah wa Nasqsyabandiyah biasanya dilaksanakan setelah calon murid mengetahui terlebih dahulu hal-ihwal tarekat tersebut, terutama menyangkut masalah kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakannya, termasuk tatacara berbai&#8217;at.<a title="" href="#_ftn13"><sup><sup>[13]</sup></sup></a> Sehingga baru setelah merasa mantap, dan mampu seorang murid datang mengahadap mursyid untuk dibai&#8217;at.</p>
<p>Prosesi pembai&#8217;atan itu adalah sebagai berikut:</p>
<p>1). Dalam Keadaan suci, murid duduk menghadap mursyid dengan posisi duduk &#8216;aks tawarruk (kebalikan duduk tawarruk tasyahud akhir). Dengan penuh kekhusukan, taubat dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada mursyid untuk dibimbing.</p>
<p>2). Selanjutnya  mursyid  membimbing murid untuk membaca kalimat berikut ini:</p>
<p>a)              Basmalah.</p>
<p>b)   Do’a yg artinya “Ya Allah bukakan untukku dengan keterbukaan para arifin”. 7 x</p>
<p>c)             Basmalah, hamdalah dan sholawat.</p>
<p>d)   Basmalah dan istighfar 3x.</p>
<p>e)   Sholawat 3x.</p>
<p>3. Kemudian syekh atau mursyid mengajarkan dzikr, dan selanjutnya murid menirukan:</p>
<p>a)  Laa ilaha illaa Allaah, 3x.dan ditutup dengan;</p>
<p><strong><em>b)  </em></strong>Sayyiduna Muhammadun Shollallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<ol>
<li>Kemudian keduanya membaca shalawat munjiat  <a title="" href="#_ftn14"><sup><sup>[14]</sup></sup></a>.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Kemudian mursyid menuntun murid untuk membaca ayat bai’at: Surat al-fath ayat 10, dengan diawali ta’awud dan basmalah,  yang artinya;</li>
</ol>
<p>&#8220;Aku berlindung kepada Allah, dari setan yang terku-tuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya, akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri, dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.&#8221;</p>
<ol>
<li>Kemudian berhadiah fatihah kepada: Rasulullah SAW. para masyayikh ahl silsila al-Qadiriyah wa Naqsya­bandiyah, khsusunya syekh Abd. Qadir al-Jailani dan Syekh Abu al-Qasim Junaidi al-Bagdadi. 1 kali</li>
<li>Kemudian syekh atau mursyid berdo&#8217;a untuk muridnya sekedarnya.</li>
<li>Selanjutnya mursyid memberikan tawajjuh  kepada murid 1000x,  atau lebih.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tawajjuh ini dilaksanakan dengan cara memejamkan kedua mata rapat-rapat, mulut juga ditutup rapat-rapat, dengan menyentuhkan lidah ke langit-langit mulut. Dan menyebut nama Allah (Allah, Allah) dalam hati 1000x, dengan dikonsentrasikan (difokuskan) ke arah sanubari murid. Demikian juga murid melaksanakan hal yang serupa, untuk dirinya.</p>
<p>Itulah prosesi pembai&#8217;atan yang merupakan pembai&#8217;atan atau talqin dua macam dzikr sekaligus, Yaitu dzikr nafi isbat (Qadiriyah), dan dzikr lathaif (Naqsyabandiyah). Baru pembai&#8217;atan selanjutnya yang beda hanya untuk dzikr lathaif  saja, sampai tujuh kali. Dan pembai&#8217;atan untuk mengamalkan muraqabah dua puluh kali.</p>
<p>Dari segi prosesinya, pembai&#8217;atan yang ada dalam tarekat ini jelas berbeda dengan prosesi yang ada dalam tarekat induknya. Di dalam Tarekat Qadiriyah pembai&#8217;atan hanya untuk dzikr nafi isbat, dengan didahului shalat sunah dua rakaat, dan prosesi ijab qabul yang eksplisit, serta acara pemberian wasiat dan pesan-pesan untuk berlaku kesufian, oleh mursyid kepada mu­rid yang menandai berakhirnya pembai&#8217;atan.<a title="" href="#_ftn15"><sup><sup>[15]</sup></sup></a>* Demikian juga prosesi tersebut berbeda dengan yang ada dalam tradisi Tarekat Naqsyabandiyah.<a title="" href="#_ftn16"><sup><sup>[16]</sup></sup></a>&#8216;</p>
<p>Selain adanya perbedaan dalam prosesi pembai&#8217;atan antara ketiga tradisi tersebut, juga memiliki persamaan-persamaan, yaitu:</p>
<p>1)    Murid harus duduk menghadap mursyid dalam keadaan suci</p>
<p>2)    Hadiah fatihah dan istigfar sebelum pentalqinan dzikr</p>
<p>3)       Mendengarkan dan menirukan talqin dzikr (bagi mu­rid), dalam keadaan mata terpejam.</p>
<p>4)    Adanya kesetiaan murid terhadap semua aturan dan kebijaksanaan mursyid</p>
<p>5)    Do&#8217;a mursyid untuk murid.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain alasan-alasan &#8220;syar&#8217;i&#8221; tersebut, talqin  dzikr (pembai&#8217;atan) juga dimaksudkan untuk memberikan tekanan psikologis bagi seseorang untuk senantiasa melaksanakan dzikr karena janji dan bai&#8217;atnya kepada mursyid, sehingga akhirnya dzikr menjadi bagian dari hidupnya. Ibarat pohon atau tanaman, dzikr  (kalimat thayyibah), harus ditanamkan oleh seorang ahli yang berhak untuk itu, itulah mursyid.<a title="" href="#_ftn17"><sup><sup>[17]</sup></sup></a>&#8216; Jika dzikr yang ditanamkan oleh mursyid, terus menerus dirawat -dengan mengamalkannya- maka tumbuhlah ia menjadi pohon yang baik , akarnya menghunjam di tanah (fisik) dan cabang-cabangnya menjulang ke langit (hati sanubari). Dan senantiasa akan menghasilkan buah setiap saat.dan itu adalah pohon kepribadian dan akhlak yang mulia. (lihat QS. Ibrahim : 34)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2. Manaqiban</p>
<p>Upacara ritual yang menjadi tradisi dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang tidak kalah pentingnya adalah manaqiban. Selain memiliki aspek ceremonial manaqiban juga memiliki aspek mistikal. Sebenarnya kata manaqiban berasal dari kata manaqib (bahasa Arab), yang berarti biografi ditambah dengan akhiran: -an, menjadi manaqiban sebagai istilah yang berarti kegiatan pembacaan manaqib (biografi), syekh Abd. Qadir al-Jailani, pendiri Tarekat Qadiriyah, dan seorang wali yang sangat legendaris di Indonesia.<a title="" href="#_ftn18"><sup><sup>[18]</sup></sup></a>&#8216;</p>
<p>Kalau dilihat secara ilmiah kitab manaqib itu memang tidak istimewa. Tetapi nampaknya dalam kehidupan penganut tarekat ini, manaqiban  merupakan kegiatan ritual yang tidak kalah sakralnya dengan ritus-ritus yang lain. Bahkan manaqiban tidak hanya dikerjakan oleh para pengikut tarekat ini, tetapi lebih dari itu ia dilaksanakan oleh kebanyakan masyarakat santri pedesaan di Pulau Jawa dan Madura. Di kedua Pulau ini organisasi para pengamal manaqib syekh Abd. Qadir al-Jailani dan pengaruhnya jauh lebih besar daripada Tarekat Qadiriyah itu sendiri.<a title="" href="#_ftn19"><sup><sup>[19]</sup></sup></a>*</p>
<p>Isi kandungan kitab manaqib itu meliputi: silsila nasab syekh Abd. Qadir al-Jailani, sejarah hidupnya, akhlaq dan karamah-karamahnya, di samping adanya do&#8217;a-do&#8217;a bersajak (nadaman, bahr dan rajaz) yang bermuatan pujian dan tawassul  melalui dirinya.</p>
<p>Pengakuan akan kekuatan magis dan mistis dalam ritual manaqiban ini karena adanya keyakinan bahwa syekh Abd. Qadir al-Jailani adalah qutb al-&#8217;auliya&#8221;yang sangat istimewa, yang dapat mendatangkan berkah (pengaruh mistis dan spiritual) dalam kehidupan seseorang. Hal ini dapat dipahami dalam sya&#8217;ir berikut:</p>
<p>Artinya:</p>
<p>&#8220;para hamba Allah, dan para tokoh-tokohnya Allah, tolonglah kami karena kerelaan Allah.</p>
<p>Jadilah Tuan semua penolong kami karena Allah, semoga dapat berhasil maksud kami, sebab keutamaan Allah. Semoga rahmat Allah atas yang mencukupi (nabi Muhammad), dan semoga keselamatan atas pemberi syafaat (Nabi Muhammad). Karena syekh Muhyiddin (Abd. Qadir) semoga engkau menyelamatkan kami, dari berbagai macam cobaan ya Allah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tetapi dari sekian banyak muatan mistis dan legenda tentang syekh Abd. Qadir al-Jailani, yang paling dianggap istimewa dan diyakini memiliki berkah besar dalam upacara manaqiban adalah karena dalam kitab manaqib terdapat silsilah nasab syekh. Dengan membaca silsilah nasab ini seseorang akan mendapat berkah yang sangat banyak. Karena itu nasabnya itu dinazamkan sebagai berikut, yang artinya:</p>
<p>&#8220;Nasab ini seakan-akan menjadi mataharinya waktu Dhuha, karena terangnya sebagai penyangga munculnya waktu pagi. Nasabnya (syekh) telah bersinar di wajah Adam, sehingga malaikat langit diperintahkan sujud kepadanya. Nasab ini dalam kitab Allah sebagai hujjah yang terkuat telah dipuji, maka barangsiapa yang sengaja ingkar past! Kalah”.</p>
<p><sup> </sup></p>
<p>Sehingga setelah nasabnya syekh dibaca, para masyayikh dan hadirin peserta manaqiban, semua menjawab dengan do&#8217;a, yang artinya:</p>
<p>&#8220;Mudahkan setiap urusan kami dan maafkan kami, dari setiap duka, bala&#8217; dan kemelaratan saya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tetapi secara umum diterimanya upacara manaqiban ini oleh para Kiai di Jawa khususnya, karena di dalam manaqib disebut-sebut nama para nabi dan orang-orang shaleh. Khususnya pada pribadi syekh sendiri. Sedangkan hal-hal tersebut diyakini sebagai suatu amal shaleh (kebaikan), berdasarkan sabda Nabi :</p>
<p>Artinya: “mengingat para Nabi adalah termasuk ibadah, mengingat orang-orang shaleh adalah kafarat, mengingat kematian adalah shadaqah, dan mengingat kubur akan mendekatkan kalian ke<br />
surga.&#8221; (HR. Imam Dailami)<a title="" href="#_ftn20"><sup><sup>[20]</sup></sup></a>&#8216;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disamping karena motifasi kafarat tersebut, kebanyakan masyarakat pengamal manaqib meyakini, bahwa upacara manaqiban mendatangkan banyak manfaat. Seperti kesuksesan usaha, terkabulnya do&#8217;a, dan berkah-berkah lain sesuai dengan kepentingan masing-masing. Pelaksanaan manaqiban di dalam masyarakat biasanya diwujudkan dalam rangka selamatan, tasyakuran dan kegiatan-kegiatan penting yang lainnya.<a title="" href="#_ftn21"><sup><sup>[21]</sup></sup></a>&#8216;</p>
<p>Sedangkan manaqiban dalam tradisi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sebagai jam&#8217;iyyah merupakan kegiatan rutin. Ada yang menyelenggarakan pada acara mujahadah bersama setiap minggu, atau acara khataman dan tawajjuhan setiap bulan atau pada acara khaul Syekh Abd. Qadir al-Jailani yang jatuh pada tanggal 11 Rabi&#8217;ul tsani Karena Syekh wafat pada tanggal 11 Robi&#8217;ul Sani 561 H.</p>
<p>Tradisi pembacaan manaqib ini, dilaksanakan secara terpisah dan merupakan seremonial tersendiri. Tidak termasuk dalam kegiatan mujahadah, maupun khataman. Misalnya tradisi yang berlaku dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah untuk kemursyidan Suryalaya. Manaqiban ini diadakan rutin setiap bulan sekali, dengan tertib acaranya sebagai berikut:</p>
<p>-     Pembacaan ayat suci Alquran</p>
<p>-     Pembacaan tanbih</p>
<p>-     Pembacaan tawassul</p>
<p>-     Pembacaan manaqib</p>
<p>-     Ceramah agama</p>
<p>-     Penutup.<a title="" href="#_ftn22">[22]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>3. Khataman</p>
<p>Kegiatan ini merupakan upacara ritual yang biasanya dilaksanakan secara rutin di semua cabang kemursyidan. Ada yang menyelenggarakan sebagai kegiatan mingguan, tetapi banyak juga yang menyelenggarakan kegiatannya sebagai kegiatan bulanan, dan selapanan (36 hari). Walaupun ada sementara kemursyidan yang menamakan kegiatan ini dengan istilah lain, yaitu tawajjuhan, atau khususiyah, tetapi pada dasarnya sama, yaitu pembacaan ratib atau aurad khataman tarekat ini.</p>
<p>Dari segi tujuannya, khataman merupakan kegiatan individual, yakni amalan tertentu yang harus dikerjakan oleh seorang murid yang telah mengkhatamkan tarbiyat Dzikr lathaif. Dan khataman sebagai suatu ritus (upacara sakral) dilakukan dalam rangka tasyakuran atas keberhasilan seorang murid dalam melaksanakan sejumlah beban dan kewajiban dalam semua tingkatan Dzikr lathaif.</p>
<p>Tetapi dalam prakteknya khataman merupakan upacara ritual yang &#8220;resmi&#8221; lengkap dan rutin, sekalipun mungkin tidak ada yang sedang syukuran khataman. Kegiatan khataman ini dipimpin langsung oleh mursyid atau asisten mursyid (khalifah kubra). Sehingga forum khataman sekaligus berfungsi sebagai forum tawajjuh, serta silaturrahmi antara para ikhwan.<a title="" href="#_ftn23"><sup><sup>[23]</sup></sup></a>&#8216;</p>
<p>Kegiatan khataman ini biasanya juga disebut mujahadah, karena memang upacara dan kegiatan ini memang dimaksudkan untuk mujahadah (bersungguh-sungguh dalam meningkatkan kualitas spiritual para salik), baik dengan melakukan dzikr dan wirid, maupun dengan pengajian dan bimbingan ruhaniyah oleh mursyid.<a title="" href="#_ftn24"><sup><sup>[24]</sup></sup></a>&#8216;</p>
<p>Di samping manfaat-manfaat yang bersifat praktis tersebut, upacara khataman  ini diyakini sebagai majelis yang sangat besar kemanfaatan dan berkahnya. Di antara manfaat dan keutamaan majelis khataman  tersebut antara lain:</p>
<ol>
<li>Menjadi sebab turunnya berkah dan rahmat Allah.</li>
<li>Mengamankan perkara yang mengkhawatirkan.</li>
<li> Mempermudah berhasilnya hajat dan cita-cita.</li>
<li>Menaikkan tingkatan spiritual.</li>
<li>Meningkatkan derajat, baik di dunia maupun di akhirat.</li>
<li><sup>6.                  </sup>Menambah istiqamah dalam beribadah, dan menghantarkan pada akhir kehidupan yang husn al-khatimah.<a title="" href="#_ftn25"><strong><em><strong>[25]</strong></em></strong></a></li>
</ol>
<p><sup> </sup></p>
<p>Proses khataman biasanya dilaksanakan sebagai berikut: Dengan dipimpin oleh mursyid atau asisten se­nior [khalifah kubra), dalam posisi duduk berjama'ah setengah lingkaran, atau berbaris sebagaimana shaf-shafnya jama'ah shalat, maka mulailah membaca bacaan-bacaan sebagai beikut:</p>
<ol>
<li>Al-Fatihah, kehadirat Nabi, beserta keluarga dan sahabatnya.</li>
<li>Al-Fatihah, untuk para nabi dan rasul, para malai-kat al-muqarrabin, para suhada', para salihin, setiap keluarga, setiap sahabat dan kepada arwah bapak kita Adam, dan ibu kita Hawa', dan semua keturunan dari keduanya sampai hari kiamat.</li>
<li>Al-Fatihah, kepada arwahnya para tuan kita imam kita: Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Semua sahabat-sahabat awal, dan akhir, para tabi'in, tabi'it tabi'in dan semua yang mengikuti kebaikan mereka sampai hari kiamat.</li>
<li>Al-Fatihah, untuk arwah para imam mujtahid dan para pengikutnya, para ulama' dan pembimbing, para qari' yang ikhlas, para imam hadis, mufassir, semua tokoh-tokoh sufi yang ahli tarekat, para wali baik laki-laki maupun perempuan. Kaum muslimin dan muslimat di seluruh penjuru dunia.
<ol>
<li>Al-Fatihah, untuk semua arwah semua syekh Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah, khusunya tuan syekh rajanya para wali, yaitu syekh Abd. Qadir al-Jailani, dan Abu Qasim Junaidi al-Baghdadi, Sirri Saqati, Ma'ruf al-Karakhi, Sayyid Habib al-A'jami, Hasan Basri, Sayyid Ja'far Sadiq, Sayyid Abu Yazid al-Bustami, Sayid Yusuf al-Hamadani, Sayyid Bahauddin al-Naqsyabandi, hadrat Imam al-Rabbani (al-Sirhindi), berikut nenek moyang dan keturunan mereka ahli silsilat mereka dan orang yang mengambil ilmu dari mereka.</li>
<li>Al-Fatihah, kepada arwah orang tua kita dan syekh-syekh kita, keluarga kita yang telah mati, orang yang berbuat baik kepada kita, dan orang yang mempunyai hak dari kita, orang yang mewasiati kita, dan orang kita wasiati, serta orang yang mendo'akan baik kepada kita.</li>
<li>Al-Fatihah, kepada arwah semua mukminin-mukminat, muslimin-muslimat yang masih hidup maupun yang sudah mati, dibelahan barat dunia maupun di belahan timur. Di belahan kanan dan kiri dunia, dan dari semua penjuru dunia, semua keturunan Nabi Adam, sampai hari kiamat.<a title="" href="#_ftn26"><sup><sup>[26]</sup></sup></a>&#8216; Kemudian secara bersama-sama membaca bacaan kalimat-kalimat suci, khusus.<a title="" href="#_ftn27"><sup><sup>[27]</sup></sup></a>&#8216;</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kedua, berhenti sejenak (tawajjuh) menghadapkan hati kehadirat Tuhan yang maha Agung seraya merendahkan diri serendah-rendahnya, di bawah serendah-serendahnya mahkluk, karena sifat kurang dan sifat, serta perbuatan yang jelek yang lainnya. Kemudian memohon pertolonganNya, agar dapat menjalankan perkara yang baik dan meninggalkan perbuatan yang jelek, memohon tambahnya rizki yang baik, manfaat dan berkah di dunia dan akhirat. Memohon untuk diri dan semua keluarganya agar dapat istiqamah dalam bertaqwa kepada-Nya dan istiqamah dalam menjalankan tarekat ini dan syari&#8217;at rasul serta diberi karunia husnul khatimah.</p>
<p>Kemudian membaca lanjutan ratib kalimat suci dan do’a khataman.sebagai tanda selesainya acara khataman, selanjutnya khataman  ditutup dengan mushofahah (bersalaman) keliling kepada mursyid sebagai sentral pimpinan dan guru pembimbing dilanjutkan kepada semua hadirin secara bersambung.</p>
<p>Semoga tulisan ringkas tentang upacara ritual yang ada dalam tradisi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini, dapat memberi  manfa’at kepada para pembaca yang budiman.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Pengasuh Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Kab.Nganjuk, Dekan Fak. Adab IAIN Sunan Ampel dan Mursyid Thariqah qadiriyah wa Naqsyabandiyah. (makalah ini adalah ringkasan dari penelitian penulis yang dilakukan dalam rangka penyusunan tesis tahun 1996).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2"><sup><sup>[2]</sup></sup></a> Di  wilayah kemursyidan KH. Shahibul Wafa Tajul Arifin (Suryalaya-<sup>1 </sup>Tasikmalaya),  upacara ritual itu disebut penalqinan, sementara di kemursyi&#8217; yang lain biasa disebut bai&#8217;at.  Al-Sya&#8217;rani sendiri sebagai tokoh sufi yang sering menjadi sandaran para ahli tarekat lebih sering menggunakan istilah talqin dan k hirqah dari pada  bai&#8217;at. Baca Abd. Wahhab al-Sya&#8217;rani, <strong>al-Anwar al-Qudsyi] fi </strong>Ma&#8217;rifat Qawaidi al-Sufiah (Jakarta: Dinamika Berkah Utama, t. th.), h. 1 32.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3"><sup><sup>[3]</sup></sup></a> Walaupun suluk merupakan perjalanan spiritual yang tujuan, hasil</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref4"><sup><sup>[4]</sup></sup></a> Abu Hafas al-Suhrawardi, Awarifal-Ma &#8216;arif, dalam hawas Ihya&#8217; Ulum al-Din, jilid II (Semarang: Toha Putra, t.th.), h. 44. Walaupun demikian ada juga beberapa sufi yang melakukan suluk tanpa pembai&#8217;atan  formal seperti dalam tarekat. Maka mereka menerima bai&#8217;at secara  berzakhi (oleh seorang  wali  besar yang sudah wafat, ataupun oleh Nabi sendiri). Mereka ini disebut dengan kaum  uwaisiy (nisbat kepada Uwais al-Qarni). Misalnya al-Kharaqani yang melakukan suluk dengan bimbingan Abu Yazid  al-Bustami dan al-Attar oleh arwah  al-Hallaj. Annimerie Schimmel, Mistical Dimension of Islam, diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono, dkk. dengan judul Dimensi Mistik dalam  Islam  (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986), h. 108. Martin Van Bruinessen, Tarekat  Naqsyabandiyah di Indonesia (Bandung: Mizan, 1992), h. 49.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref5"><sup><sup>[5]</sup></sup></a> Abu Hafas al-Suhrawardi, op. cit., h. 45.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6"><sup><strong><sup>[6]</sup></strong></sup></a> Ibid., h. 46:</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref7"><sup><sup>[7]</sup></sup></a> Keputusan  muktamar  JATMI, 12-13 Oktober 1957. Baca dalam Muslikh Abd. Rahman, al-Futuhat,  op. cit, h. 7.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref8"><sup><sup>[8]</sup></sup></a> Abd. Wahhab  al-Sya&#8217;rani, op. cit., h.16.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref9"><sup><sup>[9]</sup></sup></a> Muslikh Abd. Rahman,  al-Futuhat, op. cit, h. 16.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref10"><sup><sup>[10]</sup></sup></a> Menurut Penelitian al-Sya&#8217;rani sendiri hadis itu tidak diketemukan .lalam kitab-kitab hadis yang  mu&#8217;tamad. Lihat al-Sya&#8217;rani, loc. cit.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref11"><sup><sup>[11]</sup></sup></a> Zakiyuddin Abd. al-Azim ibn  Abd. al-Qawaiy al-Munziri op cit 5. &#8220;</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref12"><sup><sup>[12]</sup></sup></a> Muhammad ibn Abdullah al-Hakim, al-Mustadrak ala al-Sahihainifl al-Hadis, juz I (Beirut: Dar al-Fikr, 1978), h. 501.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref13"><sup><sup>[13]</sup></sup></a> Biasanya seseorang yang datang hendak berbai&#8217;at terlebih dahulu ia diberi kitab pegangan untuk ditelaah di rumahnya. Baru setelah memahami dan merasa cocok ia harus datang lagi untuk menyatakan diri  ingin dibai&#8217;at.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref14"><sup><sup>[14]</sup></sup></a> Walaupun prosesi bai&#8217;at ini tidak sama dengan yang dipraktekkan dalam Tarekat Qadiriyah, tetapi inilah inti dari talqin Dzikr Qadiriyah yaitH Dzikr jahr nqfi isbat. Bacaan setelah salawat munjiat ini adalah inti dari prosoit, pada bai&#8217;at Dzikr Naqsyabandiyah {Dzikr lathaij).</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref15"><sup><sup>[15]</sup></sup></a> Lihat Isma&#8217;il ibn Sayid Muhammad Sa&#8217;id al-Qadiri, al-Fuyudat al-Rabbaniyahfi  Mu &#8216;assarati  wa al-Aurad al-Qadiriyah (Kairo: Ma&#8217;had al-Husaini, t. th.), h. 29-31.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref16"><sup><sup>[16]</sup></sup></a> Di antara perbedaannya dengan prosesi pembai&#8217;atan yang berlaku di dalam Tarekat Naqsyabandiyah ialah: di dalam Tarekat Naqsyabandiyah seorang calon murid dibai&#8217;at setelah ia merasakanjazbah (kontak dengan Allah). Sehingga ia harus Shalat istikharah dan tidur istiharah terlebih dahulu, baru setelah mendapat natijahnya istiharah (dengan bimbingan mursyid), ia bisa dibai&#8217;at. Inilah yang disebut-sebut sebagai keistimewaan Tarekat Naqsyabandiyah karena permulaan tarekat ini adalah akhir dari tarekat yang lain. Baca M. Amin al-Kurdi, Tanwiir, op. cit., h. 438.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref17"><sup><sup>[17]</sup></sup></a> Penjelasan KH. Ali Hanafiah, sesepuh Tarekat Qadiriyah wa  Naqsyabandiyah  Suryalaya di  wilayah Jatim Wawancara, Surabaya, 3 Agustus 1996.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref18"><sup><sup>[18]</sup></sup></a> Popularitas Syekh Abd. Qadir al-Jailani tidak hanya di Indonesia,</p>
<p align="left">bahkan di seluruh dunia Islam. Legenda tentang dirinya jauh lebih populer dari pada Tarekat Qadiriyah sendiri. J.S. Trimingham, The Sufi Orders in Islam (London: Oxford University Pers, 1971), h. 43. Martin Van Bruinessen, Tarekat op. cit., h. 98.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref19"><sup><sup>[19]</sup></sup></a> Penjelasan H. Jamaluddin, khalifah Tarekat Qadiriyah di Sul-sel. Wawancara, Ujungpandang, 7 September 1996. Penulis pernah menyaksikan kebesaran pusat pengamal manaqib ini di Jember Jawa Timur, tetapi belum pernah menemukan kemursyidan Tarekat Qadiriyah di Pulau Jawa dan Madura. Baca kitab-kitab manaqibnya. Misalnya Muslikh Abd. Rahman, al-Nur al-Burhanifi Dzikr Nabdzati Manaqib al-Syekh Abd. Qadir al-Jailani (SemsLTane-Toha putra, 1983 H.)</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref20"><sup><sup>[20]</sup></sup></a> Menurut al-Suyuti sanad hadis ini lemah (daif). Lihat Jalaluddin Abd. Rahman al-Suyuti, al-Jami&#8217; al-Saghirfi Ahadisi al-Basir al-Nazir,yxz II (Kairo: Dar al-Nasyr al-Mishriyah, t. th.), h. 19.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref21"><sup><sup>[21]</sup></sup></a> Inilah yang berlaku di masyarakat  santri  dan  masyarakat Islam pedesaan di Pulau Jawa dan Madura pada umumnya, seperti yang penulis ketahui selama ini.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref22">[22]</a> Lihat, M. Shohibul wafa  Tajul Arifin, <em>Uqud al-Juman, Op.Cit. h.16. </em></p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref23"><sup><strong><sup>[23]</sup></strong></sup></a> Tawajjuh dalam  kesempatan itu  berarti  bertemunya (berhadap-hadapan, antara murid dengan mursyidnya). Baca Qawaid, Tarekat dan Politik Kasus Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Desa Mraggen Demak Jateng (tesis), ( Jakarta: PPS-UI, 1993), h. 188.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref24"><sup><sup>[24]</sup></sup></a> Demikian yang berlaku di kemursyidan Pare Kediri Jatim.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref25">[25]</a> Muslih Ibn Abdurrahman, <em>al-futuhat, op.cit.84.</em></p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref26"><sup><sup>[26]</sup></sup></a> Yang membacakan &#8220;alamat&#8221; pengiriman bacaan al-Fatihah adalah yang memimpin acara khataman ini, sedangkan makmum hanya membaca surat al-Fatihahnya.</p>
</div>
<div>
<p align="left"><a title="" href="#_ftnref27"><sup><sup>[27]</sup></sup></a> Prosesi dan bacaan dalam khataman ini dapat dibaca dalam  Muslikh Abd. Rahman, al-Futuhat, op. cit., h. 50-62. Shahibul Wafa Tajul Arifin, U&#8217;qud, op. cit., h. 25-45. M. Romli Tamim, op. cit., h. 27-32. M. Lutfi al-Hakim, op. cit., h. 30-45.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metafisika-center.org/382.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dokumentasi Kegiatan All in One</title>
		<link>http://metafisika-center.org/dokumentasi-kegiatan-all-in-one.html</link>
		<comments>http://metafisika-center.org/dokumentasi-kegiatan-all-in-one.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 22:57:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metafisika-center.org/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum wr wb Tidak terasa saat ini kita sudah memasuki tahun 2012 masehi, tentu banyak suka duka yang kita hadapi&#8230;..bagi para netter yang berbahagia yang senantiasa setia dengan website kami berikut link yang akan membawa anda untuk melihat kegiatan &#8211; kegiatan yang telah dilaksanakan di Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab ( YPP DUA) Kelutan Ngronggot Nganjuk, Silahkan Mengikuti Tautan Berikut Klik DI Sini]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum wr wb</p>
<p>Tidak terasa saat ini kita sudah memasuki tahun 2012 masehi, tentu banyak suka duka yang kita hadapi&#8230;.<span id="more-367"></span>.bagi para netter yang berbahagia yang senantiasa setia dengan website kami berikut link yang akan membawa anda untuk melihat kegiatan &#8211; kegiatan yang telah dilaksanakan di Yayasan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab ( YPP DUA) Kelutan Ngronggot Nganjuk, Silahkan Mengikuti Tautan Berikut <a href="http://metafisika-center.org/galery-majdzub"><strong>Klik DI Sini</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metafisika-center.org/dokumentasi-kegiatan-all-in-one.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Tahun Baru 1433 hijriyah</title>
		<link>http://metafisika-center.org/selamat-tahun-baru-1433-hijriyah.html</link>
		<comments>http://metafisika-center.org/selamat-tahun-baru-1433-hijriyah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 11:31:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metafisika-center.org/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[Menengok Masa Lalu, untuk memperbaiki Masa Depan Oleh: Kharisudin Aqib al-Faqir. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته. &#160; Para pembaca yang budiman !, &#160; Kita berada di awal tahun baru 1433 H. seharusnya kita bersyukur kepada Allah swt, atas karunia hidup yang telah diberikan oleh-Nya selama ini. Kita dapat menggunakan berbagai macam fasilitas hidup di dunia ini dengan gratis dan Cuma-Cuma. Kita dapat menghirup udara segar setiap hari dengan jumlah yang tak terbilang lagi dengan gratis. Semua bahan makanan telah disiapkan &#8230; <a href="http://metafisika-center.org/selamat-tahun-baru-1433-hijriyah.html" >&#8594;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 align="center">Menengok Masa Lalu, untuk memperbaiki Masa Depan</h2>
<p align="center">Oleh: Kharisudin Aqib al-Faqir.</p>
<h2 style="text-align: center;" dir="RTL"><strong>السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.</strong></h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para pembaca yang budiman !,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kita berada di awal tahun baru 1433 H. seharusnya kita bersyukur kepada Allah swt, atas karunia hidup yang telah diberikan oleh-Nya selama ini. Kita dapat menggunakan berbagai macam fasilitas hidup di dunia ini dengan gratis dan Cuma-Cuma. Kita dapat menghirup udara segar setiap hari dengan jumlah yang tak terbilang lagi dengan gratis. Semua bahan makanan telah disiapkan oleh Allah di sekitar kita, dekat sekali dengan tempat kita di muka bumi ini juga. Sistem kekekalan tubuh dan kesehatan yang telah diatur oleh Allaoh dengan aturan yang sangat canggih. Dan berbagaimacam nikmat dan karunia yang tak mungkin kita hitung saking banyaknya.<span id="more-345"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Allah, yang rahmaan dan rahiim, menitahkan kita hidup di muka bumi ini juga membekali manusia dengan aturan atau syari’at, yang dengan mematuhi aturan tersebut, manusia dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat. Buku aturan tersebut adalah kitab suci, dan untuk pereode kerasulan yang terakhir kitab suci tersebut disebut al-Qur’an.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Allah  swt, memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk senantiasa menengok dan memperhatikan masa lalunya untuk kehidupan masa depannya. Sebagaimana firman-Nya;</p>
<p><strong>يا ايهالذين امنوااتقوا الله, ولتنظر نفس ماقدمت لغد.و اتقوا الله   ان الله خبير بما تعملون.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artinya; “Wahai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya setiap diri memperhatikan masa lalunya untuk masa depannya. Bertaqwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian sedang kerjakan”.  Al-Hasyr (59):18.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sekarang kita berada di awal tahun baru hijriah 1433  H. Tahun baru bagi umat Islam. Kebiasaan masyarakat merayakan tahun baru sebagai peristiwa yang penuh hura-hura, pelampiasan hawa nafsu hidonistik. Seharusnya kita berikan introspeksi, bahwa tahun baru harus merupakan langkah baru, setrategi dan semangat baru untuk dapat hidup lebih sukses dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan mengoreksi kekurangan dan kesalahan tahun sebelumnya. Minimal tidak akan terulangnya keterperosokan dan kerugian di masa lalu. Karena seorang mukmin yang bijak tidak akan terjerumus dalam satu lubang dua kali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di samping sebagai awal melangkah dengan semangat dan strategi baru, perayaan tahun baru juga harus dijadikan sebagai sarana instrospeksi, bahwa dengan bertambahnya usia, adalah berkurangnya jatah dan ketetapan umur kita. Umur yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita semakin hari akan semakin habis. Dan manusia tidak diberi tahu berapa jatah umurnya dan sampai hari apa dan di mana usianya harus berakhir. Semua dirahasiakan Allah, agar manusia senantiasa waspada dan senantiasa selalu menjaga ketaatannya kepada Allah. Agar ketika ia harus kembali kehadirat-Nya, kembali dalam keadaan ingat, ta’at dan bahkan rindu kepada Allah. Inilah yang disebut dengan husnul khotimah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pengasuh metefisika center mengajak, untuk tujuan meninggikan kalimat Allah dan meratakan rahmat-Nya bagi seluruh alam. Untuk memanfa’atkan moment tahun baru ini lebih giat dalam membina hubungan dan komunikasi dengan Allah, -dengan tekun beribadah dan mujahadah- dan beramal sosial yang lebih maksimal.</p>
<p>Semoga semua upaya kita dirdloi oleh Allah swt. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metafisika-center.org/selamat-tahun-baru-1433-hijriyah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecerdasan Integral</title>
		<link>http://metafisika-center.org/306.html</link>
		<comments>http://metafisika-center.org/306.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 01:07:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metafisika-center.org/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[  Kecerdasan Integral (Spiritual, emosional dan intelektual secara terpadu)     Oleh; Kharisudin Aqib. &#160; &#160; Bab I Pendahuluan Manusia sebagai makhluk sosial, diciptakan oleh Allah memiliki kecenderungan untuk hidup berkelompok, bersuku-suku dan berbangsa adalah untuk saling berkenalan dan saling mengerti.[1] Baik dalam kelompok yang paling kecil maupun kelompok paling besar senantiasa terjadi dinamika yang pada hakekatnya adalah adalah seleksi alam untuk eksistensi sebuah kepemimpinan.Dan ujian bagi manusia mana di antara mereka yang paling baik amal perbuatannya.[2] &#160; Kepemimpinan merupakan fitrah &#8230; <a href="http://metafisika-center.org/306.html" >&#8594;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong> </strong></p>
<h1 style="text-align: center;">Kecerdasan Integral</h1>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">(Spiritual, emosional dan intelektual secara terpadu)</span></strong></p>
<p align="center">    Oleh; Kharisudin Aqib.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Bab I</strong></p>
<p align="center"><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Manusia sebagai makhluk sosial, diciptakan oleh Allah memiliki kecenderungan untuk hidup berkelompok, bersuku-suku dan berbangsa adalah untuk saling berkenalan dan saling mengerti.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Baik dalam kelompok yang paling kecil maupun kelompok paling besar senantiasa terjadi dinamika yang pada hakekatnya adalah adalah seleksi alam untuk eksistensi sebuah kepemimpinan.Dan ujian bagi manusia mana di antara mereka yang paling baik amal perbuatannya.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a><span id="more-306"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kepemimpinan merupakan fitrah manusia yang paling dinamis. Karena manusia pada dasarnya adalah pemimpin, walaupun hanya pemimpin pengganti (<em>khalifah</em>), yakni pemimpin yang menggantikan peran tuhan dalam kehidupan di alam semesta.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Setiap manusia adalah pemimpin, pemimpin bagi; dirinya sendiri, keluarganya, kelompok masyarakat, bangsa dan negaranya.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> Sehingga setiap manusia adalah pemimpin dan sekaligus anggota. Karena pada setiap diri ada unsur yang dominan dan ada juga unsur resesifnya, ada dorongan untuk menguasai dan menurut sekaligus.<a href="http://metafisika-center.org/kecerdasan-integral"><strong>SELANJUTNYA</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metafisika-center.org/306.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khutbah Idul Adha</title>
		<link>http://metafisika-center.org/khutbah-idul-adha.html</link>
		<comments>http://metafisika-center.org/khutbah-idul-adha.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 22:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[2011]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha]]></category>
		<category><![CDATA[idul adha 1432 hijriyah]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah idul adha 2011]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah idul qurban]]></category>
		<category><![CDATA[sholat ied]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metafisika-center.org/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Menyibak Hikmah di Balik Ajaran Kurban Oleh; Kharisudin Aqib.[1] السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر,.  الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر,.  الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر لآاله الا الله , الله اكبر , الله اكبر ولله الحمد.  الحمد لله , الحمد لله الذي أمرنا بالصلاة والنحر. وأرشد نا بالأضحية والقربان لتظهير الشكر. أشهد أن لآاله الا الله, وحده لاشريك له, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك علي سيد نا ومولنا محمد &#8230; <a href="http://metafisika-center.org/khutbah-idul-adha.html" >&#8594;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://metafisika-center.org/wp-content/uploads/2011/11/eksekusi.jpg"><img class="aligncenter" title="eksekusi" src="http://metafisika-center.org/wp-content/uploads/2011/11/eksekusi.jpg" alt="" width="447" height="335" /></a></p>
<h1 align="center">Menyibak Hikmah di Balik Ajaran Kurban</h1>
<p align="center">Oleh; Kharisudin Aqib.<a title="" href="file:///F:/metafisika%20center/Khutbah%20idul%20adha.docx#_ftn1">[1]</a></p>
<p dir="RTL"><strong>السلام عليكم ورحمة الله وبركاته</strong></p>
<h2 dir="RTL">الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر,.  الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر,.  الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر</h2>
<p dir="RTL"><strong>لآاله الا الله , الله اكبر , الله اكبر ولله الحمد.</strong></p>
<p dir="RTL"><strong> الحمد لله , الحمد لله الذي أمرنا بالصلاة والنحر. وأرشد نا بالأضحية والقربان لتظهير الشكر. أشهد أن لآاله الا الله, وحده لاشريك</strong><strong> </strong><strong>له, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك علي سيد نا ومولنا محمد صلى الله عليه وسلم سيد الجن والأنام. وقال الله تعالى فى القران الكريم: أعوذ بالله من السيطان الرجيم : لن ينال الله لحومها ولا د ماؤها ولكن يناله التقوى منكم. أما بعد: فيائيها الناس, اتقوا الله , اتقوا الله   حق تقاته ولا تموتن الا وأنتم مسلمون.<span id="more-291"></span></strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong> </strong></p>
<p><strong>الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر ولله الحمد </strong></p>
<p><strong>Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullaaah !</strong></p>
<p>Kita bersyukur kepada Allah, karena kita masih diberi kesempatan menghirup udara segar di pagi hari yang penuh dengan berkah ini. Yakni hari raya <em>Adlha</em>. (Hari Raya Penyembelihan binatang kurban). Sebagai wujud konkrit syukur kita kepada Allah, marilah kita tingkatkan taqwa kita kepada Allah. Dalam arti yang sebenar-benarnya. Yakni menjalankan  semua perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر ولله الحمد</h2>
<p><strong>Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullaaah !</strong></p>
<p>Berkurban merupakan ajaran yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Berkurban dalam arti menyembelih binatang ternak dalam rangka memenuhi perintah Allah dan meratakan rahmat Allah kepada sesama manusia. Sebagaimana firman-Nya;</p>
<p dir="RTL"><strong> أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: انا أعطيناك الكوثر, فصل لربك وانحر , ان شانئك هو الأبتر</strong>. (الكوثر :1-3).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sungguh Kami telah memberimu nikmat bagai telaga <em>kautsar</em> (yang banyak), maka sholatlah karena Tuhanmu dan sembelihlah (binatang kurban), sesungguhnya orang yang memusuhimu dia yang akan terputus (generasinya)&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedemikian pentingnya kurban, sehingga Nabi juga menyatakan;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL"><strong>من وجد سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا</strong> . رواه أحمد وابن ماجاه.</p>
<p>“Barangsiapa yang memiliki keluasan rizki, kemudian tidak mau berkurban, maka tidak usahlah ia mendekati musholla ku ini”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر ولله الحمد</strong></p>
<p><strong>Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullaaah !</strong></p>
<p>Penekanan Islam terhadap ajaran berkurban, sehingga harus ada hari raya kurban, tentu tidak semata-mata karena ritual. Islam adalah agama rasional, Islam agama modern, sehingga seluruh ajarannya senantiasa memiliki rasionalitas yang tinggi. Termasuk di dalamnya adalah ajaran kurban.  Dalam ajaran ibadah kurban ada nilai-nilai ritual – transendental (<em>ta’abbudi</em>), dan ada nilai-nilai rasionalitasnya (<em>ta’aqquliy</em>). Kedua-duanya harus dipenuhi dalam pelaksanaan ibadah kurban.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر ولله الحمد</strong></p>
<p><strong>Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullaaah !</strong></p>
<p>Ajaran kurban adalah, pengabadian pengorbanan agung yang dilakukan oleh hamba-hamba pilihan dan kekasih Allah. Hamba Allah yang benar-benar memiliki monoloyalitas dan kecintaan murni kepada Allah. Yakni seorang ayah yang rela mengorbankan anak yang sangat dicintainya demi melaksanakan perintah Allah. Seorang ibu yang sangat patuh kepada suami dan pasrah kepada Allah sehingga rela mengorbankan anak satu-satu karena Allah semata. Serta seorang anak shaleh yang sangat patuh kepada kepada orang tuanya yang ia yakini sebagai melaksanakan perintah Allah. Itulah Ibrahim kekasih Allah, sayyidah Hajar  dan Ismail Nabiyullah. Miniatur dari pengorbanan mereka itulah yang disyari’atkan kepada umat Islam, yakni mengorbankan binatang ternak. Sebagai bukti syukur dan baktinya kepada Allah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر ولله الحمد</strong></p>
<p><strong>Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullaaah !</strong></p>
<p>Mengapa harus binatang ternak ?. Itulah mungkin yang menjadi pertanyaan kita. Memang sebenarnya pengorbanan bukan dinilai pada materialnya. Akan tetapi penilaian pengorbanan terfokus pada niatan dan sikap mental kita dalam berkurban. Allah swt. Berfirman;</p>
<p dir="RTL"> <strong> لن ينال الله لحومها ولا د ماؤها ولكن يناله التقوى منكم</strong>. الحج :37<strong></strong></p>
<p><strong>“</strong>Allah tidak akan menerima daging-daging dan darah kurban, tetapi yang diterima Allah adalah ketaatan dari kalian”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sedangkan bentuk-bentuk formal (<em>syar’i</em>) kurban , seperti binatang tertentu atau waktu-waktu tertentu  adalah simbol-simbol dan isyarat-isyarat yang penuh dengan makna (<em>hikmah</em>), yang seharusnya dapat dipetik oleh umat Muhammad,manusia  modern dan rasional ini. Karena itulah ! pesan Allah untuk kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر ولله الحمد</strong></p>
<p><strong>Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullaaah !</strong></p>
<p>Ajaran islam menetapkan, bahwa ibadah kurban dengan cara menyembelih binatang ternak (binatang jinak, misalnya; unta, sapi, kerbau, dan kambing), khusus. Bukan dengan pengorbanan harta benda yang lain. Ini adalah simbolisasi dan pesan moral secara khusus dari Allah Dzat yang Maha Pencipta kepada umat manusia, yang kebanyakan bermental rendah, yakni mental kebinatang jinakan (<em>bahimiy</em>).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mental kebinatang jinakan itu adalah orientasi hidup sebagaimana binatang jinak yang hanya mengejar kenikmatan badani; seperti makan, minum, hura-hura dan sek. Itulah orientasi dominan dalam kehidupan kebanyakan manusia yang harus dikorbankan (disembelih) Selanjutnya dijadikan kendaraan ruhani menuju ridlo ilahi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر ولله الحمد</strong></p>
<p><strong>Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullaaah !</strong></p>
<p>Kaum muslimin hendaknya memegang prinsip dan komitmen, atas pengorbanan nafsu kebinatang jinakannya. Ia harus sadar bahwa hidup ini merupakan perjalanan panjang menuju Allah. Jika seseorang dalam hidupnya hanya berorientasi pada kepenting kebinatang janakan, sperti niatan hidup untuk menuju kepentingan makan, minum, tidur dan sek, maka dia berarti akan menjadikan dirinya sebagai binatang jinak secara maknawi. Walaupun wujud lahirnya adalah manusia. Maka jadilah ia sebagai manusia bermental kambing, sapi, kerbau, ayam dll. Jika seseorang sampai mati masih didominasi oleh nafsu kebinatang jinakan, maka ia akan bangkit di hari kemudian dalam wujud maknawi jiwanya tersebut. Sehingga ada orang yang berkepala kerbau, sapi, kambing atau harimau dll.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikian juga halnya, orang beriman yang melaksanakan ibadah kurban dengan ikhlas hati  dan memenuhi persyaratan syar’I, maka akan mendapatkan kendaraan-kendaraan padang mahsyar yang berupa jiwa-jiwa kebinatangan yang telah terbebaskan. Kendaraan ini sangat berarti untuk perjalanan menuju tempat kembali pada sumber kenikmatan abadi (surga yang dijanjikan).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر ولله الحمد</strong></p>
<p><strong>Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullaaah !</strong></p>
<p>Menyembelih bukan berarti mematikan jiwa . Karena jiwa tidak dapat mati. Menyembelih berarti mentransfer jiwa ke alam ruhaniah, sehingga jiwa dapat terbebaskan dari ikatan dan belenggu badan. Sehingga jiwa kebinatangjinakan (jiwa kambing, atau sapi, atau yang lain) dapat dikendarai menuju Tuhan melalui taman-Nya yang indah (surga). Makan, minum, tidur dan sek tetap penting, dalam rangka menjaga stamina dan generasi untuk berbakti kepada ilahi.   Makan, minum, tidur dan sex bukan tujuan untuk memuaskan dan menggemuk nafsu kebinatangjinakan, tetapi sarana untuk mencari ridlo Allah. Inilah diantara sekian banyak hikmah pesan moral ibadah kurban.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hari ini kita justru diharamkan puasa, begitu juga tiga hari setelah ini. Oleh karena itu marilah kita atur makan dan minum kita dengan niatan menjaga kekuatan dan kesehatan badan sehingga dapat melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Kita istirahatkan badan dengan tidur agar kita dapat beribadah kepada Allah dengan baik. Kita salurkan nafsu sex kita sesuai dengan ketetapan Allah, dalam rangka mencari ridlo Allah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر ولله الحمد</strong></p>
<p><strong>Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullaaah !</strong></p>
<p>Demikian khuthbah yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfa’at untuk memupuk keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL"><strong> أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم.</strong></p>
<p dir="RTL"><strong> اذاجاء نصر الله والفتح . ورأيت الناس يد خلون فى   د ين الله أفواجا,  فسبح بحمد ربك واستغفره انه كان توابا.  وقل ربي اغفر وارحم وأنت خير الراحمين</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong> </strong></p>
<p dir="RTL"><strong>الله اكبر </strong><strong>X9 لا إ له الا الله الله اكبر الله اكبر ولله الحمد</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>الحمد لله شكرا على ما انعم, أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له كما امر والزم. واشهد ان محمدا عبده ورسوله شهادة من امن به واسلم, وحا د من كفر به, واوغلم, أللهم صل على محمد, صلى الله عليه وعلى اله ما اضاء دهر واظلم واعلى فحا لهم يوم الشفاعة واكرم , وسام تسليما كثيرا: اما بعد , فياايها الناس&#8230;.. اتقوالله, ان الله امركم بامره بداء فيه بنفسه, وثنى بملا ئكته</strong><strong>, وايته با المؤمنين من عباده, فقال عز من قائل : ان الله وملائكته يصلون على النبى, ياايها الذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل على محمد, اللهم صل على ملئكتك المقربين, وانبيائك والمرسلين, واهل طاعتك اجمعين, واجعلنا منهم وارحمنا برحمتك ياارحم الراحمين. اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات انك سميع قريب مجيب الدعوات, اللهم اعزالإسلام والمسمين وانصر عساكره, الى يوم الدين, ووسع على عباد تك على عبادك المقلين من امة محمد صلى الله عليه وسلم اجمعين. اللهم اصلح احوالنا, وبلغ مما يرضيك امالنا, واحتم بالصالحات اعمالنا وباالحسنى والسعاده اجالنا, وتوفنا وانت راض عنا, ربنا اتنا فىالدنيا حسنه وفىالاخرت حسنة وقنا عذاب النار, </strong></p>
<p dir="RTL"><strong>عبادالله, ان الله يأمر بالعد ل والاحسان, وايتاء ذي القربى وينهى عن الفخشاء والمنكر, ولذ كرالله اكبر.  </strong></p>
<p><a href="http://metafisika-center.org/wp-content/uploads/2011/11/eksekusi.jpg"><br />
</a></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="file:///F:/metafisika%20center/Khutbah%20idul%20adha.docx#_ftnref1">[1]</a> Penulis adalah Dekan Fakultas Adab, IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan</p>
<p>Pengasuh PP.Daru Ulil Albab Kelutan-Ngronggot-Nganjuk</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metafisika-center.org/khutbah-idul-adha.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjalin  Komunikasi  Menguatkan Sinergi</title>
		<link>http://metafisika-center.org/menjalin-komunikasi-menguatkan-sinergi.html</link>
		<comments>http://metafisika-center.org/menjalin-komunikasi-menguatkan-sinergi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 12:17:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metafisika-center.org/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Menjalin Komunikasi Menguatkan Sinergi. Oleh: Kharisudin Aqib al-Faqir. Assalamu’alaikum wrwb. Nabi besar Muhammad saw.mengumumkan kepada kita sebuah teori yang super canggih untuk melapangkan rizki dan memanjangkan umur, beliau menyatakan; “barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia bersilaturrahmi”. suatu amaliyah yang sangat praktsi, yang biasa disebut silaturrahim, atau silaturrahmi. Silaturrahmi, atau menghubungkan kasih sayang pada dasarnya meliputi dua pokok kajian, yaitu; hubungan dan kasih sayang. Hubungan dalam arti relasi aktif yang biasa disebut komunikasi.dan kasih sayang &#8230; <a href="http://metafisika-center.org/menjalin-komunikasi-menguatkan-sinergi.html" >&#8594;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjalin Komunikasi Menguatkan Sinergi.<br />
Oleh: Kharisudin Aqib al-Faqir.<br />
Assalamu’alaikum wrwb.<br />
Nabi besar Muhammad saw.mengumumkan kepada kita sebuah teori yang super canggih untuk melapangkan rizki dan memanjangkan umur, beliau menyatakan; “barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia bersilaturrahmi”. suatu amaliyah yang sangat praktsi, yang biasa disebut silaturrahim, atau silaturrahmi.<span id="more-283"></span></p>
<p>Silaturrahmi, atau menghubungkan kasih sayang pada dasarnya meliputi dua pokok kajian, yaitu; hubungan dan kasih sayang. Hubungan dalam arti relasi aktif yang biasa disebut komunikasi.dan kasih sayang dalam arti perasaan hati untuk memberi dan membahagiakan pihak lain.</p>
<p>Silaturrahmi merupakan resep nabi untuk kesuksesan umatnya, yaitu sukses ekonomi dan kemasyarakatan.serta panjang umur, dengan membuat jejaring dalam pemberdayaan ekonomi dalam sinergi teologis.</p>
<p>Hubungan kasih sayang sesama harus dengan dasar rasa kasih sayang, menyayangi saudara sesama manusia, saudara kerabat, teman biasa dan teman dekat, anak-istri dan semau keluarga daam rangka spirit kasih sayang. Menyayangi dengan hakekat menjaga keselamatan dan kebahagian mereka semua dalam kehidupan dunia dan akhirat. Jangan sampai orang-orang yang kita sayangi tersebut hilang keselamatan dan kebahagiaannya di dunia ini, lebih-lebih dalam kehidupannya di akhirat.</p>
<p>Jangan sampai kasih sayang hanya diberikan dalam rangka menyenangkan atau membahagiakan seseorang secara material atau duniawi atau jangka pendek. Tetapi mencelakakan dan menghancurkan secara ukhrowi, atau jangka panjang. Karena kehidupan jangka panjang ) baik di dunia maupun di akhirat adalah lebih penting dan lebih bermakna. Walaupun demikian, bentuk komunikasi yang lebih humanis, tetap sangat penting untuk dikembangkan. Sehingga komunikasi berjalan lancar dan indah.</p>
<p>Seringkali kita terjebak kepada materialisme dan formalisme dalam komunikasi, sehinga tidak ilahiyyah, tapi humanis atau ilahiyyah tetapi kurang humanis. Komunikasi yang kita harapkan adalah komunikasi yang ilaahiyyah dan humanis. Sehingga sinergi ilaahiyah – humanis inilah yang dapat mengangkat derajat kita sebagai manusia. Makhluk Allah yang paling dimuliakan-Nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metafisika-center.org/menjalin-komunikasi-menguatkan-sinergi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khutbah Idul Fitri 1432 H</title>
		<link>http://metafisika-center.org/261.html</link>
		<comments>http://metafisika-center.org/261.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Aug 2011 22:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metafisika-center.org/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Zakatul Fithri Menjadikan Umat Kembali Kepada Fitrah Hakiki Oleh: Kharisudin Aqib السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ألله أكبر, ألله أكبر, ألله اكبر. ألله أكبر, ألله أكبر, ألله اكبر. ألله أكبر, ألله أكبر, ألله اكبر. لااله الاالله. الله أكبر. الله أكبر ولله الحمد. ألحمد لله, الحمد لله الذي أنعمنا بنعمة الإيمان والاسلام, والذي امرنا بطاعته وطاعة رسول الله سيد الجن والانام, أشهد ان لااله الاالله, وأشهد ان محمدا عبده ورسوله شهادة تنجى قائلها يوم لا ينفع مال ولا بنون الا &#8230; <a href="http://metafisika-center.org/261.html" >&#8594;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://metafisika-center.org/wp-content/uploads/2011/08/lebaran-2011.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-262" title="lebaran 2011" src="http://metafisika-center.org/wp-content/uploads/2011/08/lebaran-2011.jpg" alt="" width="976" height="689" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Zakatul Fithri Menjadikan Umat Kembali Kepada Fitrah Hakiki</strong><br />
<strong> Oleh: Kharisudin Aqib</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>السلام عليكم ورحمة الله وبركاته</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>ألله أكبر, ألله أكبر, ألله اكبر. ألله أكبر, ألله أكبر, ألله اكبر. ألله أكبر, ألله أكبر, ألله اكبر.</strong><br />
<strong> لااله الاالله. الله أكبر. الله أكبر ولله الحمد.</strong><br />
<strong> ألحمد لله, الحمد لله الذي أنعمنا بنعمة الإيمان والاسلام, والذي امرنا بطاعته وطاعة رسول الله سيد الجن والانام, أشهد ان لااله الاالله, وأشهد ان محمدا عبده ورسوله شهادة تنجى قائلها يوم لا ينفع مال ولا بنون الا من اتى الله بقلب سليم, أللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله واصحابه واهل بيته الكرام. قال الله تعالى فى القران الكريم أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: اقيموا الصلاة واتوا الزكاة واركعوا مع الراكعين. وقال تعالى: خذ من اموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها وصل عليهم. ان صلاتك سكن لهم. اما بعد: فياأيها الناس, ا تقواالله حق التقوى, ولا تموتن الا وأنتم مسلمون.</strong></p>
<p><strong>Al</strong>lahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu,<span id="more-261"></span><br />
Ma’asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah,<br />
Tiada kata yang patut kita ucapkan untuk mengawali khutbah kali ini, kecuali ucapan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, karena hanya dengan rahmat-Nya kita masih diberikan kesempatan menghirup udara segar di pagi yang ceria ini, dalam keadaan iman dan islam Semoga rahmat dan karunia Allah Swt ini tetap menyertai kehidupan kita, bahkan sampai menghadap kembali kehadirat-Nya. Amin.</p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu,<br />
Ma’asyiral muslimiin wal muslimaat, rahimakumullah. Kita juga bersyukur kepada Allah atas petunjuk-Nya, sehingga kita dapat membersihkan jiwa dengan dengan ajaran puasa dan zakat yang telah kita laksanakan di bulan ramadlon kemarin. Semoga kita semua dapat menjumpai bulan ramadlon yang akan datang dan mengisinya dengan puasa dan zakat serta amal-amal sholeh yang lain dengan penuh keimanan dan ihtisaaban untuk mendapatkan ridlo Allah.</p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu,<br />
Ma’asyiral muslimiin wal muslimaat, rahimakumullah.Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini sebagai sebuah system yang utuh baik secara dhohir, unsure-unsur luar,dan atau perangkat keras (hardware), maupun unsure bathin yakni unsure-unsur dalam sebagai perangkat lunak (software). Merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi.demikian juga system komunikasinya, ada dua jaringan yang saling mempengaruhi yakni hablun minallah (kabel dari Allah), dan hablun minannas (kabel dari manusia). Keduanya adalah media komunikasi, yang berupa bahasa. Yakni bahasa badan dan bahasa bathin (ruh).Syari’at Islam ditetapkan oleh Allah swt.memiliki dua sisi komunikasi tersebut sekaligus. Tetapi pada setiap jenis peribadatan yang disyari’atkan memiliki kecenderungan lebih condong pada salah satu arah komunikasi. Seperti sholat dan puasa lebih banyak nilai kebatinannya (hablunminallah), sementara zakat dan haji lebih banyak arah kepada bahasa dan komunikasi badan (hablunminannas).</p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu,<br />
Ma’asyiral muslimiin wal muslimaat, rahimakumullah. Semua amal peribadatan murni, tidak dianggap sempurna jika tidak didukung pada ibadah social kemanusiaan. Sholat dan puasa harus didukung dengan zakat dan haji. Syukur kepada Allah harus disertai berkurban. Dan semua bentuk ibadah yang lain, juga demikian membutuhkan keterlibatan manusia (orang lain), dan penyertaan materi. Demikian juga halnya, puasa yang kita laksanakan satu bulan penuh kemarin.belum dianggap sempurna jika yang bersangkutan belum mengeluarkan zakat fitrah. Diungkapkan dengan kata;</p>
<p><strong>ثواب الصائم معلق بين السماء والارض حتى يؤتوا زكاة الفطر.</strong><br />
Pahala orang yang puasa itu tergantung di antara langit dan bumi, sampai dia membayar zakat fitrahnya.</p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu,<br />
Ma’asyiral muslimiin wal muslimaat, rahimakumullah.Perintah zakat dalam islam sangat<br />
dipentingkan, dengan bukti bahwa Allah menyebut kata zakat di dalam al-qur’an sebanyak 16 x, dan 14 x diantaranya disebutkan dalam bentuk perintah yang bergandengan dengan perintah sholata .belum menggunakan bentuk kata yang lain, yaitu kata shodaqah dan infaq yang bermakna zakat. Demikian juga bukti sejarah, bahwa perang yang pertama kali dilaksanakan oleh sahabat Abu Bakar As Shidq. Sebagai kholifah adalah perang menghadap orang-orang yang tidak mau membayar zakat yang disebut perang Riddah. Khususnya zakat fitrah (zakat jiwa), adalah sangat dipentingkan dalam islam.</p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu,<br />
Ma’asyiral muslimiin wal muslimaat, rahimakumullah.Allah swt berfirman:</p>
<p><strong>خذ من اموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها وصل عليهم ان صلاتك سكن لهم</strong></p>
<p>Ambillah sebagian dari harta mereka shodaqah (zakat)nya, sebagai pembersih dan pensuci mereka. Dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’amu akan menentramkan mereka.</p>
<p>Rasulullah Saw bersabda:</p>
<p><strong>وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال: فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة القطر (طهرة للصائم من اللغو والرفث. وطعمة للمساكين . فمن ادها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة . ومن ادها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات . رواه أبو داود وابن ماجه</strong>.</p>
<p>Dari Ibn Abbas RA, dia berkata: Rasulullah SAW, mefardlukan zakat fitrah. Zakat fitrah itu mensucikan orang yang berpuasa dari dosanya hura-hura dan omongan kej, dan makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa melaksanakannya sebelum sholat itulah zakat yang diterima, dan barangsiapa melaksanakannya setelah sholat (hari raya), maka ia termasuk shodaqah biasa. HR. Abu Daud dan Ibn Majah.</p>
<p>Rasulullah SAW, juga menyatakan;</p>
<p><strong>عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة القطر , صاعا من تمر او صاعا من شعير : على العبد والحر والذكر والانثى والصغير والكبير من المسلمين. وأمر بها ان تؤدى قبل خروج الناس الى الصلاة. متفق عليه.</strong><br />
Dari Ibnu Umar RA. Dia berkata: Rasulullah saw memfardlukan zakat fitrah berupa satu sho’ kurma kering atau gandum bagi semua orang islam, baik budak, orang merdeka, laki-laki,perempuan, besar maupun kecil. Dn beliau memerintahkan untuk membayarkannya sebelum keluarnya orang-orang keluar untuk sholat (hari raya).muttafaq ‘alaih.</p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu,<br />
Ma’asyiral muslimiin wal muslimaat, rahimakumullah.Zakat selain bermnfa’at secara individual (muzakki), yakni bersihnya jiwa dan harta dari hak orang lain), atau individual penerima (mustahiq), yakni dengan terpenuhinya kebutuhannya. Zakat juga sangat bermanfa’at secara makro (ekonomi masyarakat). Dengan pengelolaan zakat yang baik, maka sirkulasi perekonomian akan menjadi baik. Kesenjangan si kaya dengan si miskin tidak akan terlalu lebar, sehingga timbul penindasan dan kesewenang-wenangan oleh si kaya terhadap si miskin.sistem dan praktek pengelolaan zakat yang baik dan berdaya guna telah dipraktekkan sejak zaman pemerintahan Rasulullah saw sampai dengan zaman pemerintahan kekholifahan berabad-abad setelahnya.</p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu,<br />
Ma’asyiral muslimiin wal muslimaat, rahimakumullah. Pengelolaan zakat adalah oleh pemerintah melalui badan/lembaga amil yang kredibel dan terpercaya. Kredibel dalam arti memiliki kemampuan untuk melakukan pengelolaan secara professional dan terpercaya dalam arti siap diaudit (akuntabel), dan transparan (terbuka untuk umum). Dan Alhamdulillah Pemerintah , juga telah mengatur masalah ibadah maaliyah ini dengan menerbitkan UU no 38 tahun 1999.berikut dengan Keputusan Menteri Agama No 581 tahun 1999,KepMenag No 373 tahun 2003, PP.No 60 tahun 2010, Peraturan Menteri Keuangan,No. 254/PMK.03/2010, sehingga sangat memungkinkan terjadi perbaikan pengelolaan zakat pada masa-masa yang akan datang. Umat sedang menunggu contoh dan prakarsa para tokoh untuk menyalurkan dana zakat, infaq dan shodaqahnya melalui badan atau lembaga amil zakat yang sah.dengan menyalurkan dana zakat,infaq maupun shodaqah kepada Badan atau Lembaga Amil Zakat yang sah, selain mendapatkan keabsahan ibadah kita,juga akan sangat bermanfa’at perbaikan ekonomi umat secara lebih luas, terprogram dan berkesinambungan.</p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu,<br />
Ma’asyiral muslimiin wal muslimaat, rahimakumullah mari kita biasakan membayar zakat, sesuai dengan ketentuan Allah swt. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Kita latih diri kita agar juga senantiasa gemar bersedekah dan berinfaq di jalan Allah (jalan kebaikan).bukan saja berzakat,infaq dan sedekah berupa harta, tetapi apa saja yang kita miliki sebagai anugrah ilahi. Agar kita dapat kembali kepada fitrah manusia yang suci dan berjiwa malaikati.<br />
<strong> أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم.</strong><br />
<strong> اذاجاء نصر الله والفتح . ورأيت الناس يد خلون فى د ين الله أفواجا, فسبح بحمد ربك واستغفره انه كان توابا. وقل ربي اغفر وارحم وأنت خير الراحمين</strong></p>
<p><strong>الله اكبر X9 لا إ له الا الله الله اكبر الله اكبر ولله الحمد</strong><br />
<strong> الحمد لله شكرا على ما انعم, أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له كما امر والزم. واشهد ان محمدا عبده ورسوله شهادة من امن به واسلم, وحا د من كفر به واظلم, أللهم صل على محمد, صلى الله عليه وعلى اله ما اضاء دهر واظلم واعلى فحا لهم يوم الشفاعة واكرم , وسام تسليما كثيرا: اما بعد , فياايها الناس&#8230;.. اتقوالله, ان الله امركم بامره بداء فيه بنفسه, وثنى بملا ئكته, وايده با المؤمنين من عباده, فقال عز من قائل : ان الله وملائكته يصلون على النبى, ياايها الذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل على محمد, اللهم صل على ملئكتك المقربين, وانبيائك والمرسلين, واهل طاعتك اجمعين, واجعلنا منهم وارحمنا برحمتك ياارحم الراحمين. اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات انك سميع قريب مجيب الدعوات, اللهم اعزالإسلام والمسمين وانصر عساكره, الى يوم الدين, ووسع على عباد تك على عبادك المقلين من امة محمد صلى الله عليه وسلم اجمعين. اللهم اصلح احوالنا, وبلغ مما يرضيك امالنا, واختم بالصالحات اعمالنا وباالحسنى والسعاده اجالنا, وتوفنا وانت راض عنا, ربنا اتنا فىالدنيا حسنه وفىالاخرت حسنة وقنا عذاب النار,</strong><br />
<strong> عبادالله, ان الله يأمر بالعد ل والاحسان, وايتاء ذي القربى وينهى عن الفخشاء والمنكر, ولذ كرالله اكبر.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metafisika-center.org/261.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LAILATUL QODAR</title>
		<link>http://metafisika-center.org/lailatul-qodar.html</link>
		<comments>http://metafisika-center.org/lailatul-qodar.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 23:21:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metafisika-center.org/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[MENUNGGU DATANGNYA ”LAILATUL QODAR” DI SIANG HARI (Analisis Psiko-Sufistik atas Peristiwa Lailatul Qadar) Oleh: Kharisudin Aqib al-Faqir. &#160; Kata Pengantar   Atas Nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan pemelihara seluruh alam. Tuhan yang telah menurunkan agama islam dengan membawa rahmat bagi seluruh alam. Buku kecil ini adalah karya originil penulis, yang penulis yakini sebagai bagian dari kasyf nabawi yang diberikan oleh Allah swt kepada penulis yang ingin memamahi makna yang sesungguhnya dari ajaran-ajaran &#8230; <a href="http://metafisika-center.org/lailatul-qodar.html" >&#8594;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>MENUNGGU DATANGNYA</strong></p>
<p align="center"><strong>”LAILATUL QODAR”</strong></p>
<p align="center"><strong>DI SIANG HARI<br />
</strong></p>
<p align="center"><strong>(Analisis Psiko-Sufistik atas Peristiwa Lailatul Qadar)<span style="text-decoration: underline;"><br />
</span></strong></p>
<p align="center">Oleh: Kharisudin Aqib al-Faqir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Kata Pengantar</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Atas Nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji bagi Allah Tuhan pemelihara seluruh alam. Tuhan yang telah menurunkan agama islam dengan membawa rahmat bagi seluruh alam.<span id="more-241"></span></p>
<p>Buku kecil ini adalah karya originil penulis, yang penulis yakini sebagai bagian dari kasyf nabawi yang diberikan oleh Allah swt kepada penulis yang ingin memamahi makna yang sesungguhnya dari ajaran-ajaran agama islam yang diyakini oleh umatnya sebagai kebenaran mutlak yang pasti tidak bertentangnya dengan ilmu pengetahuan yang berkembang di sepanjang zaman. Seperti; isro’mi’roj, lailatul qadar, turunnya wahyu, dan lain-lain.</p>
<p>Sudah barang tentu karena ini pendapat pribadi yang terkait dengan pemahaman keagamaan yang sangat personal, makatentu banyak pembaca yang mungkin kurang sependapat, tidak setuju dan lain-lain yang bersifat subyektif penulis mohon ma’af yang sebesar-besarnya. Penulis hanya ingin berkontribusi dalam membangun masyarakat islam yang produktif dengan amal sholih sehingga menjadi umat terbaik dan unggul pada milenium ke tiga ini. Umt yang sholih dalam keseimbangan spiritual dan sosialnya.<strong><a href="http://metafisika-center.org/portfolio/lailatul-qodar-di-siang-hari">&lt;&lt;BACA SELANJUTNYA&gt;&gt;</a>&lt;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metafisika-center.org/lailatul-qodar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAREKAT</title>
		<link>http://metafisika-center.org/131.html</link>
		<comments>http://metafisika-center.org/131.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 00:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metafisika-center.org/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Kedudukan Tarekat dalam Syari’at Islam Oleh: Kharisudin Aqib Al-Faqir.             Agama Islam dalam arti yang luas memiliki tiga dimensi yang sama pentingnya, yaitu : iman, islam dan ihsan. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW. yang diceritakan oleh Umar ibn Khaththab  yang merupakan dialog antara Nabi dengan Malaikat Jibril yang datang dengan tiba-tiba, seraya merapatkan duduknya dengan Nabi dan bertanya: قال : يا محمد أخبرنى عن الإسلآم , قال أن تشهد أن لآ اله الآالله وأن محمدا رسول الله , &#8230; <a href="http://metafisika-center.org/131.html" >&#8594;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://metafisika-center.org/wp-content/uploads/2011/07/mujahadah.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-132" title="mujahadah" src="http://metafisika-center.org/wp-content/uploads/2011/07/mujahadah.jpg" alt="" width="640" height="280" /></a></p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kedudukan Tarekat dalam Syari’at Islam</span></strong></p>
<p align="center">Oleh: Kharisudin Aqib Al-Faqir.</p>
<p>            Agama Islam dalam arti yang luas memiliki tiga dimensi yang sama pentingnya, yaitu : iman, islam dan ihsan. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW. yang diceritakan oleh Umar ibn Khaththab  yang merupakan dialog antara Nabi dengan Malaikat Jibril yang datang dengan tiba-tiba, seraya merapatkan duduknya dengan Nabi dan bertanya:<span id="more-131"></span></p>
<p dir="RTL">قال : يا محمد أخبرنى عن الإسلآم , قال أن تشهد أن لآ اله الآالله وأن محمدا رسول الله , وتقيم الصلآة, وتؤتي الزكاة , وتصوم رمضان, وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا. قال أخبرني عن الإيمان , قال أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الأخر وتؤمن بالقدر خيره وشره .</p>
<p dir="RTL">فأخبرنى عن الإحسان , قال أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك. <strong>(رواه مسلم)</strong> <a title="" href="#_ftn1">[1]</a><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong> </strong><strong></strong></p>
<p>Artinya :</p>
<p align="center">“Wahai Muhammad, ceritakan padaku tentang Islam !”, Nabi menjawab; “hendaklah  engkau bersaksi , bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, kau dirikan shalat, kau bayar zakat, kau puasa di bulan Ramadlan, dan kau tunaikan haji ke Baitullah jika sarananya memungkinkan”, Jibril berkata; “Ceritakan padaku tentang iman” Rasul menjawab, Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikatnya, kitab-kitab-Nya, para utusannya, hari kiamat, dan ketentuan-Nya yang baik maupun yang buruk”, (Jibril bertanya lagi) “Ceritakan padaku apa itu Ihsan (kebaikan)” ?. Maka Nabi menjawa: “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Ia melihatmu”.HR. Muslim<strong><br />
</strong></p>
<p>Hadis tersebut  diriwayatkan dari sahabat Umar ibn Khaththab, r.a. oleh Imam Muslim berkualitas shahih, karena itu hadis ini  dapat dijadikan landasan, bahwa Agama Islam terdiri dari tiga dimensi, yaitu; imam, islam dan ihsan.</p>
<p>Dimensi Islam mempunyai lima penyangga <em>(arkan) </em>yaitu; syahadat, shalat, zakat, puasa ramadlan, dan haji. Sedangkan dimensi iman memiliki enam penyangga, yaitu; percaya kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para rasul-Nya, hari kiamat, dan percaya kepada ketentuan Allah. Baik yang baik maupun yang buruk.</p>
<p>Dimensi Islam dibahas secara mendalam dalam kitab-kitab dan disiplin ilmu fiqh atau syari’at, para ahlinya disebut <em>Fuqaha’, dan </em>kelompok-kelompok pemahamannya disebut <em>madzhab. </em>Dimensi keimanan dibahas dalam kitab-kitab atau disiplin ilmu yang disebut ilmu tauhid atau kalam. Para ahlinya disebut <em>a/-mutakallimun, </em>sedangkan kelompok pemahamannya (alirannya) disebut <em>Firqah. </em>Adapun dimensi ihsan pembahasannya tercakup dalam disiplin ilmu tasawuf, para ahlinya disebut <em>al-mutashawwifun, </em>dan kelompok pemahamannya (aliran-alirannya) disebut <em>thariqah.</em></p>
<p>Ajaran Islam yang semula hanya sederhana sekali, sebagaimana misalnya ajaran shalat. Rasul hanya menyebutkan, dengan perintah ; “shalatlah kalian, seperti shalatku yang kalian lihat”.<a title="" href="#_ftn2">16</a>Pada pada perkembangan berikutnya, muncul kitab-kitab tentang shalat yang jumlahnya banyak sekali.</p>
<p>Demikian juga halnya dengan peryataan Nabi tentang<em> ihsan</em>. Pada perkembangan berikutnya juga melahirkan banyak pendapat, tentang bagaimana metode <em>(thariqah) </em>untuk dapat menyembah Allah dengan penghayatan yang dalam. Sampai dengan seolah-­olah melihat-Nya, atau setidaknya memiliki kesadaran, bahwa Allah senantiasa mengawasi dan melihat kita.<a title="" href="#_ftn3">17</a>Dari sini lahir keilmuan khusus yang disebut dengan ilmu tasawuf. Para pakar dan praktisinya disebut sufi. Para  sufi, banyak  yang kemudian mengajarkan tarekatnya kepada murid-muridnya, sehingga tarekat berkembang menjadi banyak sekali, begitu juga halnya kitab- kitab tasawuf, sebagaimana yang dapat kita saksikan sekarang.</p>
<p>Dalam pembahasan ini akan diuraikan sekitar bentuk-bentuk “<em>ijtihad</em>” dalam rangka penanaman kesadaran kehadirat Allah pada setiap kesempatan, sebagai penghayatan dalam beragama. Hal ini merupakan kemestian dalam sejarah pemikiran Islam, karena bidang tasawuf juga terjadi perkembangan pemahaman dan upaya-upaya serius <em>(ijtihad) </em>untuk dapat memasuki dimensi ihsan yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam syari’at agama Islam. Di samping itu diuraikan upaya dalam rangka penyelarasan antara doktrin, tradisi dan pemahaman dengan pengaruh budaya global.</p>
<p>Pertentangan antara <em>ahI al-bawathin, </em>dengan <em>ahl al-zhawahir </em>pada masa-masa lalu memang dirasakan cukup gawat, bahkan sampai sekarangpun imbasnya kadang juga masih terasakan. Usaha-usaha kompromi telah banyak dilakukan oleh para ulama’ terdahulu seperti: Dzunnun al- Mishriy, al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Syekh A. Faruqi al-Shirhindi, Syekh Waliyullah al-Dahlawi.<a title="" href="#_ftn4">18 </a></p>
<p>Dapat dikatakan tarekat yang ada sekarang merupakan hasil dari usaha-usaha penyelarasan itu sehingga sesungguhnya tidak perlu terlampau dikhawatirtkan. Seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Taimiyah (yang dikutip oleh Nurcholis Madjid), bahwa kita harus secara kritis dan adil dalam melihat suatu masalah, tidak dengan serta merta menggeneralisasikan penilaian yang tidak ditopang oleh fakta. Sebab tasawuf dengan segala manofestasinya dalam gerakan-gerakan tarekat itu pada prinsipnya adalah hasil “ijtihad” dalam mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga dapat benar dan dapat pula salah. Dengan pahala ganda bagi yang benar dan pahala tunggal bagi yang salah. Maka tidak dibenarkan sikap pro-kontra yang bernada kemutlakan.<a title="" href="#_ftn5">19 </a></p>
<p>Di antara bentuk-bentuk ijtihad dalam tasawuf antara lain:</p>
<p>Tata cara dzikir yang dipakai oleh Tarekat Qadiriyah yaitu: <em>dzikir </em>dengan kalimat “<em>Ia ilaha illa Allah”</em><a title="" href="#_ftn6"><em>20-</em></a><em></em>dengan gerakan dan penghayatan untuk mengalirkan kalimat tersebut, ditarik dari pusar ke bahu kanan terus ke otak dan memasukkan kata terakhir (Allah) pada hati sanubari yang merupakan pusat kesadaran dan tempatnya ruh.<a title="" href="#_ftn7">21 </a>Cara ini diyakini memiliki dampak yang sangat positif untuk membersihkan jiwa dari segala penyakit hati (jiwa). Sehingga akan dapat memudahkan jalan mendekatkan diri kepada Allah. Dan karena ini dilakukan terus menerus dan dilakukan dengan penuh kekhusukan, maka sudah barang tentu akan memberikan dampak kesadaran makna kalimat tersebut sebagai pengaruh psikologisnya.</p>
<p>Tata cara dzikir dalam Tarekat Naqsyabandiyah. Yaitu dzikir dengan kalimat “Allah­-Allah”,<a title="" href="#_ftn8">22 </a>yang dilakukan dengan tata cara sebagai berikut : pertama, mata dipejamkan, kemudian lidah ditekuk dan disentuhkan ke atas langit-langit mulut, dan mulut dalam keadaan tertutup rapat. Selanjutnya hati mengucapkan kata “Allah” sebanyak 1000 kali yang dipusatkan pada pusat-pusat kesadaran manusia <em>(lathifah-Iathifah). </em>Hal ini dilakukan paling sedikit sehari semalam 5000 kali.<a title="" href="#_ftn9">23 </a></p>
<p>Cara ini diyakini akan membawa pengaruh kejiwaan yang luar biasa terutama manakala setiap <em>lathifah </em>telah keluar cahayanya, atau telah terasa gerakan dzikir benar­-benar terjadi padanya.<a title="" href="#_ftn10">24</a> Karena diyakini bahwa kalau <em>lathifah-lathifah </em>tersebut tidak diisi kalimat dzikir, maka akan ditempati oleh setan, dan setan itulah penghalang manusia untuk mendekatkan diri ada Allah.</p>
<p>Dalam tarekat mi juga dikenal ajaran <em>“wuquf qalbi, wuquf zamani </em>dan <em>wuquf ‘adadi”.</em><a title="" href="#_ftn11"><em>25</em></a><em> Wuquf qalbi </em>adalah menjaga setiap gerakan hati (detak nadi) untuk selalu mengingat dan menyebut <em>asma Allah. </em>Sedangkan <em>wuquf zamani </em>adalah menghitung dan memeperhatikan perjalanan waktu untuk tidak melewatkan waktu dengan melupakan Allah. Adapun <em>wuquf ‘adadi </em>adalah selalu mengusahakan hitungan ganjil (misalnya 1,3,5,21) dalam berzikr, sebagai penghormatan sunnah atas kesenangan Allah pada jumlah yang ganjil. Ajaran-ajaran tarekat sebagai bagian dan ilmu tasawuf juga mengalanil perkembangan sebagaimana ilmn-ilmu yang lain.<strong><br />
</strong></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>Muslim Abu Husain ibn Hajjaj al-Naisaburi,<em>Shahih Muslim, </em>Juz 1, Bairur: Dar al-Fikr,1992, h.29.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">16</a>Musthafa al-Siba’i, <em>aI-Sunnat </em>wa <em>makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islamiy, </em>Beirut: al-Maktab al-Islami, 1978, h. 53.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">17</a>Kesadaran yang demikian ini dalam terminologi tasawuf disebut dengan <em>muraqabah</em>. Baca, ‘Abd al-Aziz al-Daraini,<em> Thaharat al-Qulub wa al-Khudlu’ li’Alam al-Ghuyub, </em>Jeddah; Dar al-Haramain, T.th. h. 225.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">18</a> Abd. Aziz Dahlan : “Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi”, dalam : <em>Tasawuf</em> , Jakarta : Yayasan Paramadina, T.th. h. 125.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">19</a> Nurcholis Madjid, <em>Islam Agarna Peradaban: Membangun Makna Relesvansi Doktrin Islam dalam, </em><em>Sejarah</em> , Jakarta: Paramadina, 1995. h. 669.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">20-</a> Isma’il ibn Muhammad al-Qadiri, <em>Al-Fuyudhat  al-Rabbaniyah fi al- Ma ‘atsiri </em><em>Wa Aurad  al-Qadiriyah, </em>Kairo:Masyad al-Husain, tth. h.21.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">21</a> Ibid, h.30. Mir Valiuddin, <em>Contemplative Disclipines in Sufism, </em>ditetjemahkan oleh MS.Nasrullah dengan judul; <em>Dzikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf, </em>Bandung: Pustaka Hidayah, 1996, h.122.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">22</a> Muhammad Amin al-Kurdi <em>.Tanwir </em><em>a/-Q</em><em>ulub fi Mu ‘amalati ‘aIam al- Ghuyub, </em>Beirut: Dar al­-Fikr, 1995, h.445.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">23</a>  Syekh Jalaluddin <em>,Sinar Keemasan, </em>jilid 1, Ujung Pandang: PPTI-Sulsel. 1975, h.35.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">24</a>Abu Bakar Atjeh, <em>Pengantar Ilmu Tarekat: Kajian Hisroris tentang Mistik,</em>  SoIo: Romadani, 1995, h.324-334.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">25</a> <em>Ibid</em>.  h. 323</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metafisika-center.org/131.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BERITA KARYA</title>
		<link>http://metafisika-center.org/berita-karya.html</link>
		<comments>http://metafisika-center.org/berita-karya.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 15:21:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[sholawat]]></category>
		<category><![CDATA[sholawat ulul albab]]></category>
		<category><![CDATA[ulul albab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metafisika-center.org/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[ Dengan mengharap rahmat dan ridlo Allah swt. Saya: Kharisudin Aqib ibn Aqib/KH.Abdullah Umar. Hari ini / Ahad, 30 Januari 2011, bertepatan dengan tanggal, 25 Shofar 1432 hijriyah.  Pukul 14.00, Dengan ini menyatakan telah membuat dan menyelesaikan sebuah susunan sholawat baru. Sholawat tersebut saya beri nama Sholawat Ulul Albab,  sebagai Syi’ar (lambang) dan silah (pedang perjuangan/do’a) bagi keluarga besar saya, anggota jam’iyyah Majdzub (Majlis Dzikir Ulul Albab), para murid dan pengikut tarekat saya, serta kaum muslimin-mat pada umumnya yang bersimpatik dengan &#8230; <a href="http://metafisika-center.org/berita-karya.html" >&#8594;</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong> <a href="http://daruulilalbab.com/wp-content/uploads/2011/02/sholawat-ulul-albab-300x300.jpg"><img class="aligncenter" src="http://daruulilalbab.com/wp-content/uploads/2011/02/sholawat-ulul-albab-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Dengan mengharap rahmat dan ridlo Allah swt.</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Saya: Kharisudin Aqib ibn Aqib/KH.Abdullah Umar.<span id="more-110"></span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Hari ini / Ahad, 30 Januari 2011, ber</strong><strong>t</strong><strong>epatan dengan tanggal, </strong><strong>25 Shofar</strong><strong> </strong><strong>1432 hijriyah.  Pukul 14.00, Dengan ini menyatakan telah membuat dan menyelesaikan sebuah susunan sholawat baru. Sholawat tersebut saya beri nama Sholawat Ulul Albab,  sebagai Syi’ar (lambang) dan silah (pedang perjuangan/do’a) bagi keluarga besar saya, anggota jam’iyyah Majdzub (Majlis Dzikir Ulul Albab), para murid dan pengikut tarekat saya, serta kaum muslimin-mat pada umumnya yang bersimpatik dengan saya dan atau simpatik dengan orang-orang yang simpatik dengan saya, demikian seterusnya sampai dengan hari kiamat.<br />
</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Demikian redaksi <a href="http://metafisika-center.org/?p=101">sholawat Ulul Albab</a>; </strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL" align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">صلوات أولو الألباب</span></strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL" align="center"><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL" align="center"><strong>اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ ذِى العَقْلِ وَ الفُؤَادِ،</strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL" align="center"><strong>صَلاَةً نَسْألُكَ بِهَا حُسْنَ الخَلْقِ وَ العَقْلِ وَ الفُؤَادِ،</strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL" align="center"><strong>وَ أنْ تَجْعَلَنَا بِهَا أهْلَ الذِّكْرِ وَ الفِكْرِ وَ الأوْرَادِ،</strong></p>
<p style="text-align: center;" dir="RTL" align="center"><strong>وَ عَلَى آلِهِ وَ أصْحَابِهِ وَ باَرِكْ وَ سَلِّمْ</strong><br />
<strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Artinya;</strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong>”Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”,</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Yaa Allah, beri Anugrah tuan kami Muhammad sang pemilik kecerdasan dan hati nurani, dengan anugrah yang sesungguhnya, kami mohon kepada-Mu, dengan berkat anugrah-Mu tersebut, bagusnya jasad, akal dan hati nurani kami. Dengan berkat anugrah-Mu tersebut hendaknya Engkau menjadikan kami sebagai ahli dzikir, ahli fikir dan ahli wirid (istiqomah), Demikian juga (beri anugrah) terhadap keluarga dan para sahabatnya, berkatilah dan sejahterakan (mereka). </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Demikian berita karya ini saya buat, agar menjadikan maklum bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Semoga karya ini menjadi simbol sebagai jama’ah Rasulullah di bawah bendera Majlis Dzikir Ulul Albab, sekaligus sebagai do’a wasilah untuk pembentukan kepribadian muslim yang utuh dan unggul.</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong>Nganjuk, 30</strong><strong> </strong><strong>Januari 2011</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong>25 Shofar 1432 H</strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong>Ttd</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kharisudin Aqib al-Faqir</span></strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong>Muallif</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metafisika-center.org/berita-karya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

